Rabu, 25 April 2012

Be My Wife


“Damn! Why it’s so hard to say
Secret feelings locked away
Heaven knows I’ve always
Felt so much for you…”
Di sudut ruang café yang temaran ini, suara merdu milik Kamga “Tangga” yang sedang mengisi live music di sini membawa fikiranku menuju satu titik. Kamu.. Erin.


Why it’s so hard to say? Sudah empat tahun lebih kita bersahabat, Rin. Sejak waktu MOS di SMA dulu kita dikerjai oleh kakak kelas yang menyuruh kita berakting sebagai sepasang kekasih. Setelah itu kita menjadi sahabat yang tak bisa terpisahkan. Di mana ada kamu, pasti di situ juga ada aku.
Tapi, hampir selama itu pula aku memendam perasaan ini, secret feelings locked away. Siapa yang tak menaruh  hati pada wanita lembut nan anggun sepertimu? Ditambah lagi kecerdasan intelektualitas dan inner beauty yang kamu pancarkan. Hampir semua pria normal di SMA kita mengagumimu, termasuk Robi, pria–yang katanya–paling populer di sekolah kita.
Dan kamu–tanpa butuh banyak waktu–menyadari itu, perasaan Robi yang ia tunjukan lewat perlakuannya yang berbeda padamu. Tapi mengapa kamu tak pernah menyadari perasaanku? Even… Heaven knows I’ve always felt so much for you.
“I’m not that romantic
Even worse I’m sarcastic sometimes
And now it’s time I tell you this
What’s always been my only wish…”
Kamga terus melanjutkan lantunan indahnya, yang setiap bait liriknya menohok kalbuku dalam.
I’m not that romantic. Aku tahu, aku tidak akan bisa berlaku seperti Robi yang katamu sangat romantis itu–padahal menurutku dia seorang raja gombal yang sangat memuakan, yang rutin mengirimimu puisi cinta setiap kali  kamu bangun dan hendak tidur, yang rutin memberimu bunga setiap kali perayaan anniversary kalian, sebulan, dua bulan, tiga bulan, setiap bulan! Bagaimana aku tak muak melihatnya?! Apalagi ketika ku tahu bahwa dia tak hanya mempersembahkan semua rayuan itu kepadamu, tapi juga kepada Vivi, Dini, dan Riri.
Sengaja aku bungkam, tapi terus berusaha untuk membuktikan agar kamu dapat melihat langsung kelakuan pria pujaanmu yang bejad itu. Hingga suatu hari akhirnya matamu terbuka…
“Aku nggak percaya, kenapa Robi bisa nge-empatin aku?! Apa salah aku? Apa aku kurang perhatian ke dia? Apa aku kurang…”
“Stop, Rin!!! Bukan kamu yang kurang, tapi emang cowok bejad itu aja yang bajingan!!! Stop, stop nyalahin diri kamu sendiri!!!”
Ah… betapa bodohnya aku saat itu. Bukannya menenangkanmu, aku malah membuatmu semakin terisak dalam. Ah… Even worse I’m sarcastic sometimes. Maafkan aku, Rin.
Maafkan juga atas kepengecutanku selama ini. Yang bahkan hingga perginya kamu ke negeri paman Sam untuk melanjutkan studimu di sana, aku masih juga terdiam kelu memendam perasaan ini.
“Radit, radit, kan?! Apa kabar? Long time no see!”
Aku mengucek kedua mataku. Halusinasi kah? Kamu ada di depanku sekarang, Erin?!
“Baik. Kamu… kamu bukannya di Amerika?” dengan terbata kucoba menjawab sekenanya.
“Iya, aku ngelanjutin kuliah di sana. Tapi, sekarang lagi libur summer, jadi aku pulang ke Indo.”
Aku yakin, ini bukan sebuah kebetulan. Ini adalah skenario terindah yang di buat Tuhan untukku. Bertemu denganmu malam ini…
 And now it’s time I tell you this, what’s always been my only wish…
“Erin, mumpung kamu ada di sini, aku mau ngomong satu hal yang dari dulu aku pendam. Mungkin akan agak sedikit mengejutkan kamu, but… whatever, I just can’t contain it again!
“Eventhhought I’m no spiderman or superman
I’ll be the one who guards you
Night and day and trust me
I don’t need no spiderweb or laser eyes
Cause you’re giving me
The strength to say
Share you life and be my wife…”
            Kamu hanya menunduk diam, namun jari-jarimu memainkan sebuah lingkaran mungil yang bertahtakan batu berkilauan di jari manismu.
***

*Kisah ini terinspirasi dari lagu tangga, yang berjudul sama seperti kissing ini, Be My Wife. Recommended for listening! 
By: Riana Yahya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar