Minggu, 17 September 2017

Review Buku Jalan Pulang (Buku Kedua Pejalan Anarki, Dwilogi Sepasang yang Melawan)

“Dan kau pergi diam-diam mengepaki cinta, dengan cara terpetualang yang pernah ada.”

Sesiapa yang membaca Pejalan Anarki (saya pernah me-reviewnya juga di sini), buku pertama dari dwilogi Sepasang yang Melawan ini, pasti sudah menanti kelanjutan dari kisah perjalanan El dan Sekar. Di akhiri dengan kepergian El di buku pertama, tentu membuat para pembaca penasaran, apa yang akan terjadi selanjutnya pada kisah sepasang pendaki ini. Apakah Sekar akan menerima Rama, pria pilihan ayahnya, penolong keluarganya, dan pada Rama pun akhirnya El menitipkan Sekar sebelum ia pergi. Ataukah Sekar akan berontak dan pergi mencari El yang menghilang?

Di awal buku ini, akan kita rasakan, bagaimana nelangsanya Sekar yang ditinggal kekasihnya, El. Sang penulis, Jazuli Imam, banyak membawa ingatan Sekar pada masa dimana ia masih dibersamai El. Saat mereka mendaki Rinjani misalnya, di hadapan sebermula bersatunya mereka berdua; Sagara Anak, El berucap, “Salah satu cara Tuhan untuk pamer adalah ya Dia menciptakan Sagara Anak, Ranu Kumbolo, Jogja, Bandung, dan Kamu.”  

Tapi Sekar pun tersadar, ia tak bisa terus-menerus begini. Ia yang anak pertama, harapan keluarga, dipaksa bangkit setelah melihat sosok bapak, ibu, dan adik-adiknya. “Merawat kesia-siaan adalah dosa, Non” pesan El dalam surat terakhirnya untuk Sekar. Surat perpisahan yang lebih romantis dari puisi percintaan. Angkat topi sekali lagi buat Mas Jazuli Imam!

Sekar Indurasmi. Atas perpisahan kita, aku tahu kamu akan merasa sebagaimana yang aku rasa, kita tidak sedang baik-baik saja.

Hanya, percayalah pada apa yang telah kita sepakati tentang kehidupan ini, sayang, bahwa segalanya hanya sementara, bahwa tak ada yang pasti selain mati. Satu detik atau seribu tahun, tak ada yang abadi tetaplah tak ada yang abadi. Juga kegelisahan ini, pasti mati, nanti.

Kembalikan kendalimu. Kendalikan dirimu. Segala bentuk ketergantungan adalah penjajahan. Dan sebagaimana sumpah kita pada yang merdeka, Nona. Aku, kamu, menolak tunduk pada apa-apa selain Allah. Tidak pada sekolah, tidak pada harta, tidak pada tahta, tidak pada tentara, tidak pada negara, juga satu sayangku.. tidak pada kita.

Tak pernah aku sesali bertemu denganmu. Mencintaimu, Sekar, aku sepertinya tahu bagaimana rasanya menjadi Sampek dan Engtai, V dan Elly, pohon dan air, bulan dan bintang, atau bahkan palu dan arit, tembakau dan petaninya, burung dan langit, bunyi peluit dan seorang yang hilang, juga matahari pagi dan pendaki di gunung yang dingin, serta bagaimana rasanya Hatta mencintai sederhana. Mencintaimu, aku merasa tahu, Nona.

Tapi, Sampek hanya nama, V hanya topeng, pohon akan tua, bulan akan padam, palu arit mati, tembakau jadi asap, burung jadi tulang, bunyi hening lagi, matahari akan terpenggal, dan Hatta tak lagi ada. Apalagi aku.

Haya, percaya, dalam setiap perbuatan cintamu kepada kehidupan, aku –dan apa-apa yang baru saja kusebutkan– ada di sana.


Tapi sebelum memulai lagi kehidupan barunya, Sekar ingin terlebih dahulu melakukan perjalanan yang disebutnya ‘titik balik’, memunguti lagi sisa-sisa dirinya yang masih tercecer di tempat-tampat yang dulu ia habiskan bersama El. 

“El, aku dalam perjalanan pulang. Aku akan sampai di titik itu. Seperti katamu; semua perjalanan akan sampai.”

Akankah Sekar menemukan lagi El di perjalanan pulangnya? Hhmmm... wajib baca bukunya lah kalo mau tau kelanjutannya. Review beda sama rangkuman yaaa, jadi keinget tugas bahasa Indonesia pas jaman SD, ngerangkum novel  -,-“



Back to topic. Berbeda dari buku sebelumnya, yang menceritakan pendakian El dan Sekar di Merbabu dan Rinjani, kini Mas Juju (panggilan akrab Jazuli Imam) memilih untuk mengangkat cerita pendakian di Gunung Pangrango yang memiliki trek basah dan Merapi dengan nuansa mistisnya. Tidak lupa, Mas Juju selalu menyelipkan wawasan tentang pendakian. Misalnya, dalam buku ini dikisahkan El dan Sekar yang membantu teman di samping tendanya yang terserang hypotermia.

Selain dua gunung tersebut, ada juga setting baru yang dimunculkan di buku kedua ini, yakni distrik Noari di selatan Papua. Sebagian besar konflik terjadi di tanah Papua ini. Juga ada dua nama tokoh baru di sini, yakni Lana dan Eliza, yang mengisi kisah petualang di Nusantara terpencil itu.

Bukan Mas Juju rasanya kalau tanpa kritik sosial, pun di buku ini. Dengan apik Mas Juju mendelivernya kepada pembaca. Misalnya dalam argumentasi Eliza menyoal pembukaan lahan untuk padi di Papua; “Memaksa Papua mengganti sagu dengan nasi adalah manifestasi kebodohan negara. Papua tidak butuh nasi. Mereka makannya sagu, umbi, petatas, dll. Jika kamu bertanya tentang sikap, maka sikap saya menolak pembukaan lahan untuk padi. Anda perlu tahu bahwa saya terlibat dan mendukung kawan-kawan lokal di Muting melawan sawah, sawit, karet, yang menggusur pohon-pohon sagu, menguras air, merubah budaya lokal dan segala jenis degradasi lain, atas nama uang, pembangunan, atau apapun argumentasi di balik kerakusan orang kota.”

Atau pada saat Eliza memprotes bantuan dari salah satu yayasan ke murid-muridnya; “Anak-anak sini nih gak butuh sepatu, gak butuh tas, gak butuh seragam.” Eliza lebih berpikir jauh ke depan. Bagaimana nanti jika sepatu anak-anak rusak? Mereka akan meminta orang tuanya untuk membelikan sepatu. Dan bagaimana jika orang tua mereka tidak punya uang untuk itu? Anak-anak akan malu berangkat ke sekolah sebab ia tak punya sepatu. “Kalau tujuannya adalah belajar, kenapa kita tidak memberi mereka buku-buku bacaan saja? Perpustakaan? Laboratorium dan yang sejenisnya. Mari kita buat anak-anak itu tidak tergantung pada barang, barang, dan barang, melainkan pada bacaan, pengetahuan, dan alam.”

Dan masih banyak lagi lainnya; tentang bagaimana pendidikan yang dibutuhkan oleh anak-anak Papua, konflik di daerah perbatasan negeri, hingga  pemberitaan media mainstream yang condong kepada pemangku kepentingan dari pada kenyataan yang ada.

Dibanding buku sebelumnya, buku ini memang lebih syarat akan kritik sosialnya dibanding baper-baperannya. Kalo ngomongin chemistry antara Sekar dan El, di buku pertama Pejalan Anarki lebih dapet kalo menurut saya. Kalo ngomongin sisi pendakian juga di buku pertama lebih dapet, karena settingnya banyak di gunung. Tapi, kalo ngomongin kritik ke pemerintah, kaum kapitalis, dan diri kita sendiri (somehow), buku kedua ini lebih berisi, in my opinion loh yaaa.

Overall, bukunya keren. Recommended. Dwilogi ‘sepasang yang melawan’; Pejalan Anarki dan Jalan Pulang tetep ada di top list buku favorit saya. Semoga sehat selalu, Mas Juju. Biar bisa dolan terus, ngopi terus, nulis terus. Indonesia butuh banyak lagi kloningan macam Jazuli Imam, supaya banyak novel-novel berisi, macam dwilogi buatanmu ini. Salam lestari, hormat, lan Rahayu.

Sincerely,

Riana Yahya 

Minggu, 09 Juli 2017

Trip Tahu Bulat; Curug Cipanunda Karawang

Kita menyebut ini trip tahu bulat, karena dadakan banget. Pas udah ngumpul di meepo di gerbang Perumnas Karawang aja, kita masih belum fix mau kemana. Satu-satunya cowok di trip kali ini, Kak Mamet, sibuk nanya-nanya ke Mbah Google. And finally, kita memutuskan untuk ngetrip ke salah satu curug di daerah Loji – Karawang. Namanya Curug Cipanunda, baru sekitar satu bulan curug ini dibuka. Kita berharap masih sedikit orang yang tau tentang keberadaan curug ini, supaya gak rame-rame amat kayak pasar. Lagi musim liburan gini, susah banget nyari tempat liburan yang nyaman a.k.a sepi.  Dua tahun lalu, sempet ke Curug Cigentis di musim liburan lebaran gini, dan maceeeet banget, udah kayak jalur mudik. Alhasil gak maksimal deh, liburan malah stress kalo kena macet gitu, gak asik.

Sekitar jam 10 kita mulai perjalanan. Setelah beberapa kali nanya-nanya ke penduduk sekitar, dan beli bekal untuk makan siang di salah satu warung tak jauh dari lokasi tujuan, akhirnya kita sampai di parkiran Curug Cipanunda jam 12 siang. Di parkiran ini ada juga jasa ojek, kalo kalian gak mau bercapek-capek ria tracking menuju curugnya. Kita lebih milih tracking, karena kata Mbah Google sih trackingnya cuma setengah jam, yaa ga terlalu berat lah ya. Paling tracking manja kayak ke Curug Cigentis gitu, pikir kita.

Tapiii... di awal-awal aja kita udah disuguhkan dengan tanjakan terjal. Lima menit tracking aja kita udah pada diem-dieman, sibuk ngatur nafas masing-masing. Tiap ketemu rombongan yang turun, mereka pasti bilang, “masih jauh, teh, kang, semangat!” dari muka-muka lelah mereka udah kebayang siksaan trackingnya. Padahal mereka itu turun loh, bukan naik. Firasat udah mulai nggak enak. Setengah jam lebih tracking, yang diliat masih tanjakan terus. Langsung lah sumpah serapah tertuju pada salah satu temen kita yang merekomendasika curug ini, juga mbah google yang mulai pereeeus.

“Dia gak bilang tracknya kayak gini?”
“Kagak. Dia ga cerita trackingnya. Pantesan gue minta dia buat nganter kita ga mau.”
“Ini lagi mbah google bilangnya setengah jam sampe. Mana ini ga sampe-sampe?!”
“Wuaaanjir, ini track ke curug udah kayak track ke gunung. Kayaknya gampangan track ke Lembu juga dari pada track ke sini.”

Track menuju curug


Enaknya, di sepanjang perjalanan, kalian akan gampang nemuin warung-warung untuk tempat istirahat, komplit dengan es dan pop mie untuk menghilangkan haus dan lapar. Pemandangan selama di perjalanan juga asik, di beberapa spot, kita bisa liat pemandangan lepas persawahan dan gunung tanpa penghalang apapun.

View di perjalanan menuju curug

Setelah sekitar satu jam tracking, curug yang dituju akhirnya terlihat. Ada dua kolam yang lumayan luas di bawah untuk menampung air dari curug. Kita memutuskan untuk cari tempat untuk shalat dzuhur dan makan bekal yang kita beli tadi, sebelum melanjutkan ke curug di atas dan main air di sana.

Kolam di bawah curug


Setengah jam kemudian, kita naik ke atas. Track ke atas ini, lumayan nguji nyali. Harus ekstra hati-hati di setiap langkah kita. Pastikan tanah, batu, akar, ataupun pohon yang kita pijak benar dan kuat untuk menopang badan kita, jangan sampai kepeleset dan gelinding ke bawah, kan gak lucu.

Di atas Curug Cipanunda ini ada dua kolam lagi. Kolam di atas kira-kira kedalamannya 2 meter, biasa dipakai untuk lompat dari atas. Saya kepikiran buat nyoba tadinya, tapi berhubung di rombongan kita ga ada yang bisa berenang buat nyelametin saya di bawah, yasudahlah saya urungkan dulu niatnya. Kita ngebak santai aja di kolam bawahnya. Kedalamannya sekitar setangah meter, diameternya juga ga terlalu besar, cuma sekitar lima meter. Tapi airnya cukup dingin dan menyegarkan, bisalah menghilangkan capek pas tracking ke sini tadi.







Puas main air, sekitar jam 4 sore kita udah mulai track turun. Khawatir kemaleman juga, karena perjalanan dari parkiran ke pasar loji lumayan sepi a.k.a. horror dan jalannya juga ga begitu bagus. So, tips buat kalian yang mau ke sini, mending dari pagi dan pulang sore. Usahakan sudah di pasar loji sebelum gelap.

Track turun jauh lebih ringan dari pada track naik, meskipun ada juga beberapa tanjakan. Tapi mungkin karena badan kita udah seger habis main air, dan beban tas kita sudah berpindah semua ke pundak Kak Mamet, hahaha. Ini trip kedua saya sama beliau, sebelumnya pernah ke Curug Lalay di akhir tahun 2016, dan ini kedua kalinya juga tas saya dibawain sama beliau pas di jalan pulang. Nih orang ga tau terbuat dari apa, tapi baiknya asli kebangetan. Bagi cewek-cewek jomblo yang baca tulisan saya ini, bisa japri saya kalo mau kontak beliau, eeehh...

Cuma butuh waktu setengah jam, kita udah sampe parkiran motor. Oh iya, simaksi ke curug ini Rp 5.000,- untuk parkir/motor dan Rp 10.000,- untuk masuk/orang. Dari parkiran ke pasar loji memakan waktu 45 menit, dengan sepeda motor kecepatan sedang. Dan pari pasar loji ke Karawang kota memakan waktu sekitar 45 menit lagi.

Over all, trip tahu bulat ini menyenangkan, bisa saya kasih nilai 8 deh kalau dari skala 1-10. Ada beberapa tips untuk kalian yang mau ke sini:
  • Mulailah dari pagi hari, biar pulangnya tidak kemaleman di jalan. Seperti yang saya sudah jelaskan di atas, jalannya masih belum begitu bagus dan sepi, agak horror kayaknya kalo malem, banyak pemakaman juga yang kita lewaatin.
  • Bawa temen-temen yang siap untuk diajak tracking. Untuk pemula, tracking naik bisa sekiitar satu jam lebih, banyak (bingit) tanjakan, jadi siapkan mental. Jangan pake wedges apalagi high heels atau stilleto, kalo bisa pake sepatu atau minimal sendal gunung.
  • Ga usah bawa banyak bekel kalo ga mau berat dan capek bawa tas. Di atas dan selama perjalanan banyak warung yang jual makanan dan minuman, meskipun ga ada warung nasi, mereka hanya sedia pop mie.
  • Curug ini sudah mulai banyak dikenal orang, akan lebih nyaman kalo ke curug ini pas weekday. Kalo weekend paling dapetnya kayak kita gitu, harus gabung sama yang lain atau antri nunggu sepi biar dapet foto kece, hehehe. Karena kolam dan curugnya juga ga terlalu besar.

Okay, sekian review perjalanan tahu bulat kami kali ini. Semoga bisa jadi referensi untuk kawan-kawan yang mau ngetrip di sekitaran Karawang. See yaa di trip selanjutnya!!!



Sincerely,


Riana.

Selasa, 06 Juni 2017

Mendaki ke Puncak Impian, Gunung Prau via Dieng (Trip to Dieng, Wonosobo – Part 3)

Perjalanan berlanjut ke destinasi yang paling saya buru. Yup, sekitar jam 2an kita otw dari rumah Mbaknya Mas Hamdi ke basecamp Gunung Prau via Dieng. Sebelumnya, kita nunggu Astri dan suaminya, Satria, temennya @mohparman yang juga mau nanjak. Sekitar jam 3an kita mulai penanjakan, dengan membayar simaksi Rp 10.000 saja perorangnya. Ini katanya adalah basecamp baru, sebelumnya basecamp berada di pertigaan dekat tulisan tugu Dieng itu. Sebelum sampai basecamp baru ini, kita harus berjalan sekitar 15 menitan dari basecamp lama. Di kiri, kalian akan disuguhkan view dataran tinggi Dieng yang bikin wisatawan jatuh hati. Di kanan, ada perkebunan warga yang menghasilkan sayuran seperti kentang, wortel, tomat,dan  cabai.

Basecamp baru Gunung Prau via Dieng

Selamat datang di Gunung Prau!!

Time flies when you’re in the place you’re meant to be”, katanya. Atau ada yang bilang “Time flies when you’re have fun”. Dan saya memiliki dua kondisi tersebut saat itu; sedang bahagia dan di tempat yang saya inginkan. Kalau disuruh menceritakan detail perjalanan saat itu kembali, saya malah bingung. Awalnya berniat, nanti inget-inget ada berapa pos, dari pos ini ke pos berikutnya berapa lama, ada apa aja. Eh tapi pas di TKP, blank semuaaaa, hahaha. Saya cuma mau nikmatin aja momen-momen saat itu, titik. Tanpa mau mikirin yang lain. Toh blog yang nyeritain gimana kondisi penanjakan Prau via Dieng ini udah banyak, kan? Hehehe.


Karena saya yang paling anak bawang di pendakian kali ini, maka saya di tempatkan di barisan paling depan, biar yang lain bisa menyesuaikan ritme jalan saya yang lambat. Udah cerita kan ya di tulisan pertama saya sebelumnya Formy first time... (Trip to Dieng, Wonosobo – Part 1)  kalo trip kali ini adalah pengalaman pertama saya naik gunung yang ribuan mdpl. Sebelumnya cuma Gunung Lembu  dan Gunung Parang (ini pun ga nyampe puncak -___-“) di Purwakarta yang ketinggiannnya 900-an mdpl. Sedangkan partners perjalanan saya yang lainnya sudah ada yang pernah ke Rinjani, Merbabu, Gede. Yah aku mah apa atuh, cuma serbuk kopi yang kamu kangenin di setiap pagi *Eeeeeh >,<

Dengan berjalan perlahan tapi pasti, jam 6 petang akhirnya kita sampai di puncak. Tiga jam perjalanan ini katanya sih terhitung normal, ga ngaret-ngaret banget. Alhamdulillah, Allahu akbar!! Yang penting itu semangat genks, Sekar aja kuat nyusul El ke Rinjani di pendakian pertamanya. Etapi persiapan juga perlu deng, soalnya pas nyampe sembalun Sekar langsung pingsan karena ga ada persiapan sebelumnya (yang ga nyambung baca novel Pejalan Anarki dulu ye :P). Tapi kita ga berlama-lama di puncak, cuma lewat, foto juga kagak, karena udah mulai gelap dan gerimis mulai turun, kita langsung bergegas mencari tempat untuk nge-camp. Setelah memilih lahan yang cukup datar untuk dua tanda, dan cukup banyak pepohonan untuk menghindari terpaan angin langsung, akhirnya ketiga cowok dengan sigap mendirikan tenda di pinggiran jalan, ga jauh dari puncak.

Kita bawa 2 tenda yang dibikin saling berhadapan. Yang satu kapasitas 3/4 orang, dipake sama ciwi-ciwi, satunya lagi kapasitas 2/3 dipake sama cowo-cowo. Jadi di tengah antara tenda kita ada space buat kita masak-masak, alasnya dari trash bag dan atapnya dari hammock karena kita ga bawa flysheet. Kayak gini nih suasana kita pas masak-masak.

Hammocknya udah dilepas karena cerah dan tidak berangin

Setelah beres masang tenda dan di-setting sedemikian rupa agar senyaman mungkin, kita langsung keluarin kompor, nesting, dan peralatan masak lainnya. Jangan tanya yang masak siapa, pastilah yang lebih sering ke gunung, alias cowok-cowok. Hahaha. Meskipun cewek-cewek lebih sering berkecimpung di dapur, tapi katanya seni masak di gunung tuh beda *alesaaan. Tapi seriusan saya ga bisa masak nasi kalo ga pake magic jar, yakali ke gunung bawa begituan, mau nyolok listrik dimanaaa.  

Selesai makan dan shalat di tenda, karena di luar gerimis, kita rumpi-rumpi cantik di dalem tenda. @arstory sempet live IG malah, karena signal di sini cukup bagus. Tumben ya ada signal di gunung? Kemungkinan sih karena ga jauh dari sini ada menara pemancar signal. Tapi hati-hati ya genks, kalau ada petir sebaiknya sih non aktifkan hp kalian, atau at least di ganti ke mode pesawat. Be save!  

Nggak lama, @arstory yang keluar tenda untuk nerima voice call, teriak “Bagus loh ini city view di luar. Kalian yakin mau di dalem aja?” Akhirnya, meski dengan gigil kedinginan, kita keluar dari tenda, lengkap dengan jaket tebal masing-masing. Daaaan... Waaaah emang worth it banget! Sayang banget city view Dieng di malam hari ini kalau dilewatin. Bintang-bintangnya jugaaa *mata lope lope. Asal kuat-kuat aja menahan dingin hembusan anginnya. Bbrrrrr!!

City view and milky way in one frame, taken by @mohparman

Write your name using a flaslight, made by @arstory

Setelah puas menikmati langit malam, kita pun masuk lagi ke tenda, dan masuk lagi ke sleeping bag. Sleeping time! Saya nggak begitu ingat jam berapa, yang saya inget adalah nge-set alarm di jam 04.00 WIB supaya bisa liat sunrise di pucuk.

Gimana sensasi tidur pertama di tenda? Eh pernah sih dulu tidur di tenda, terakhir pas SMP kalo ga salah, pas pelantikan ekstrakulikuler. Tapi kalo di gunung, ini yang pertama kalinya. Alhamdulillah nyenyak-nyenyak aja. Mungkin karena faktor kelelahan juga seharian nanjak Sikunir dan Prau. Meskipun beberapa kali terbangun, karena posisi saya berada di tengah antara @mbaull dan @dede.kurniawati dan saya cukup sensitif kalau ada suara atau sentuhan *eeehh. Tapi tetep aja sih nunggu alarm bunyi itu perasaan lamaaa banget, kayak nunggu dia dateng ngelamar. Eeaaaa... curhat neng :’))

Pada kenyataannya, meski udah direncanain mau ngeliat sunrise di puncak, tapi godaan kehangatan sleeping bag sulit untuk ditaklukan, ujian banget dah. Pas kedengeran adzan subuh dari hp, baru satu-satu mulai bangun. Tayamum dan shalat subuh di tenda bergantian. Sebagian masak air untuk bikin hot chocolate dan sereal. Setelah persiapan mucuk beres, keluar tenda, dan jeng jeng... udah terang, matahari udah keluar dari peraduannya, gagal maning liat sunrise. Minta banget dikunjungin lagi dah nih Sikunir sama Prau -____-“

Tapi nikmati dan syukuri aja deh apa-apa yang sudah tertakdir untuk kita. Pasti itu yang terbaik kok *tsaaah sok bijak. Perjalanan dari tempat camping kita ke puncak memakan waktu sekitar setengah atau satu jam, saya lupa. But, don’t worry, be happy! Selama perjalanan ini dijamin kamu ga akan ngerasain capek, karena pemandangan yang disajikannya indaaaah pake bangeeet. Issshhh, sulit deh dideskripsikan lewat kata-kata, keindahan sabana yang berpadu dengan kecantikan ribuan bunga daisy yang sedang bermekaran. Langit, matahari, awan, embun, bukit-bukit, pepohonan. Saya sih sangsi apakah iya ada orang yang nggak mau balik lagi ke sini setelah ngeliat keindahan yang segininya? Manurut saya sih nggak ada. Setelah dari sana aja saya langsung punya planning lagi buat ke sana. Tapi nanti, bawa suami sama anak, hahahaha. Lama yeee!

The beauty way to the top, in frame: Kori

Si Cantik Daisy <3

Sesampainya di puncak, makin bertambah lagi nikmat dan syukurnya. Megah Sindoro - Sumbing, bahkan Merbabu – Merapi, terlihat jelas dari puncak Prau ini. Sejauh mata memandang, keindahan bumi Allah terhampar megah. Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang ingin kau dustakan? Mulailah muhasabah, betapa kecil diri kita ini dari sekian agung ciptaan-Nya.

Who are we?
Just a speck of dust within the galaxy
-Maroon 5, Lost Stars-

Ritual-ritual setelah sampai puncak pun dimulai, apalagi kalau bukan foto-foto, berkirim salam melalui tulisan untuk keluarga dan teman-teman terdekat, and last but not least, ngopi tjantik. 

Tim keceeee <3

Tips: Bawa properti buat foto biar tambah hitz

Hari mulai siang dan perut mulai lapar, kita pun kembali ke tenda. Kali ini giliran ciwi-ciwi masak. Masak mie doang, hahaha. Sama goreng sosis deng. Cingcay lah itu mah. Dalam sekejap makanan udah hilang tak berbekas. Kita pun harus segera menghilang, eh pulang maksudnya. Harus turun dulu, lewat jalur yang sama kayak pas nanjak. Karena kita nggak bisa teleportasi macam Goblin, tinggal suruh dia yang di sana tiup lilin atau korek api terus langsung triiing ngilang *part ini cuma pecinta drama korea yang bakal nyambung.

Gerimis mulai turun, untungnya kita sudah beres ngerubuhin packing tenda dan carrier. Tadinya gerimis, lama-lama mulai lebat, akhirnya semua ngeluarin jas hujan sekali pakai yang udah kita siapin dari Karawang. Ini salah satu barang yang wajib dibawa ketika travelling guys. Kalo nggak hujan pun, ya beratnya paling 1 ons ini lah yaa, so nothing to lose.  

Jalan turun lumayan licin ketika hujan begini, jadi harus ekstra hati-hati dan fokus. Biarpun begitu, tetep aja saya ngerasain jatuh hati di Gunung Prau. Ga papa lah, buat kenang-kenangan, sekali kepeleset di Prau. Tapi hujan ini juga termasuk berkah buat tim kita. Karena persediaan air kita udah minim banget, tinggal ¾ botol air mineral ukuran 600ml. Saya cukup khawatir sebelumnya, karena pas nanjak saya yang paling banyak menghabiskan air, mungkin sekitar 2-3 botol. Alhamdulillah hujan membuat kita nggak terlalu haus dan persediaan air bisa cukup.

Jam 2 siang kami sudah sampai di basecamp dan langsung melaporkan kedatangan kami. Perjalanan dilanjut ke warung makan dekat basecamp lama. Saya memesan makanan khas Dieng, mie ongklok. Bedanya dengan mie lainnya, mie ongklok ini berkuah kental dan bening kaya papeda, sepertinya memang dicampur sagu. Rasanya gurih-gurih manis. Sebagai temannya (side dish) disediakan sate, ada sate sapi dan sate ayam. Ada juga minuman khasnya, purwaceng, @arstory yang memesan ini. Minuman ini berasa kaya jamu; hangat, manis, pahit. Katanya sih emang jamu yang diramu dari berbagai jenis tumbuhan, untuk meningkatkan vitalitas kaum adam. 

Penampakan Mie Ongklok

Sebenarnya, dijadwal awal kita, setelah selesai pandakian Prau ini, selesai juga lah trip kita di Dieng. Tapi karena faktor cuaca yang tidak bersahabat di hari pertama, dan menyebabkan kita harus me-re-schedule rundown, banyak obyek wisata yang belum sempat kita kunjungi. Akhirnya, setelah mempertimbangkan dan meminta izin kepada keluarga di rumah, kami memutuskan untuk memperpanjang masa liburan kami di Dieng.

Liburan belum berakhir! It means... masih ada part 4 nya, brow. Hahaha. Kalah dah tuh Cinta Fitri. Atau mungkin juga bakal sampe part 6 kaya Tersanjung :D

Sincerely,
@riana_yah