Sabtu, 25 Agustus 2012

Masih Juga Pacaran? #UdahPutusinAja..!!



 Masih kekeuh juga nih nggak mau mutusin si do’i? Yakin?
“Iya, soalnya aku udah terlanjur sayang sama dia. Aku nggak bisa hidup tanpa dia..!!”
Hadeuuh.. yang udah-udah juga baru putus sebulan, terus udah punya pacar baru, kan? Jangan lebay deh, ah.. :P
Gini yah logikanya, kalo kamu emang sayaaaang banget sama dia, pasti kamu nggak mau kan dia tersakiti? Kesandung batu aja, kamu langsung marah-marahin tuh batunya :D Nah, maka dari itu… kalo kamu sayang sama dia, tolong jaga dia dari api neraka.
Sadarlah.., setiap sentuhan kulitmu dengan kulitnya akan dibalas dengan panasnya api di neraka. Tega kah? Katanya sayang? Nahloh.. makanya, #Udah putusin aja :P Mutusin dia itu justru tanda sayang kamu ke dia, kamu minta dia untuk taat sama Allah :)
Percaya deh, kalo jodoh, nanti Allah akan pertemukan lagi kalian di waktu yang tepat, saat kalian berdua udah siap untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Kalo nggak jodoh? InsyaAllah Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik lagi :)
Untuk para muslimah nih, tentunya mau dong punya suami yang bertanggung jawab, sholeh, dan bisa jadi imam yang nuntun kamu sekeluarga menuju surga-Nya kelak? Lelaki dengan kriteria seperti ini nggak akan kalian dapetin dari hubungan yang bernama pacaran, girls! Open your eyes, please….
Why? Di awalnya aja udah nggak bener, dia ngimamin kamu untuk melangkah ke neraka-Nya dengan cara ngajak kamu pacaran. Dia ngajak kamu untuk maskiat, ngelanggar peraturan Allah, kan? Masih mau punya suami kayak gini? Saya sih ogah.. :P
“Tapi berat mutusinnya..,” Percaya deh guys, semakin berat kamu ninggalin maksiat untuk taat, semakin berat juga Allah akan mengganjar pahala untukmu. Jadi, tunggu apalagi? #Udah putusin aja :P Lebih cepat, lebih baik!


LELAKI SEJATI itu… datangi ayahnya, bukan putrinya :)






Kamis, 23 Agustus 2012

Rabu! (Versi II)



Ini hari rabu. Ya, hari rabu!
Bukan hari yang spesial. Bukan hari ulang tahunku. Ataupun hari ulang tahun pernikahanku dengan Bang Hamidi. Bukan!
Ini  hari rabu. Aku setengah berlari, sesekali meloncat untuk menghindari  tanah yang becek akibat hujan. Nafasku memburu, keningku penuh dengan  butiran keringat, sandal jepitku sempat terlepas beberapa kali, jilbabku  pun mencong sana-sini. Tak sempat aku membetulkannya.
Ini  hari rabu, aku terus berlari. Memasuki gang-gang sempit perkampungan di  pinggir kelapa gading, sambil berharap cepat sampai ke rumahku. Ada  beberapa orang yang mengenalku menyapa tapi tak ku pedulikan.
Ini hari  rabu!
Ketika  ku buka pintu rumahku, ku berharap ada Zizi di sana. Ia menyambutku  dengan senyumnya yang khas. Zizi anakku! Kulitnya hitam manis, senyumnya  indah, giginya putih bersih, matanya kecokelatan, alis matanya sedikit  tipis, rambutnya panjang sebahu. Ada tahi lalat di ujung pipinya. Manis!
Ini  hari rabu. Zizi berjanji akan pulang hari ini. Di senja yang telah ku  tunggu. Hari rabu! Meskipun hari ini sudah rabu ke tujuh, tapi aku terus  berharap anakku akan pulang hari ini. Hari rabu!
Iya,  Zizi. dia berjanji akan pulang hari rabu. Dan setiap hari rabu juga aku  pulang cepat dari pasar dan berharap anakku ada di rumah. tapi ia tidak  ada! Kemana perginya anak semata wayangku itu?
Ku  buka kembali kertas yang sudah kusam. Warnanya sudah kecokelatan. Ini  surat dari Zizi. Ku baca lagi surat ini dengan tangan bergetar, dan  tangiskupun terisak.
“Ibu, Zizi mau pamit. Zizi mau mencari kerja. Ibu tidak usah mencari Zizi. Zizi berjanji akan pulang hari rabu.”
Kata  tetangga, ia pergi dengan memakai kemeja putih dan celana bahan hitam. Zizi sempat pamit dengan tetangga kami. Ia hanya bilang ingin mencari  kerja. Waktu itu hari rabu. Sudah tujuh minggu yang lalu.
Aku tahu keinginan Zizi. Selepas sekolah menengah kejuruan, ia ingin sekali melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah.  “Aku ingin membahagiakan Ibu. Zizi ingin membahagiakan Bapak.  Memberikan kalian hadiah. Kebahagiaan! Zizi ingin menghidupkan hidup  Zizi, Bu” Katanya waktu aku bilang bahwa aku tidak mampu lagi  membiayai pendidikannya. Jangankan untuk melanjutkan kuliah, untuk  makanpun aku sering meminjam pada tetanggaku di pasar.
Ah,  maafkan ibu ini, Nak! Tapi tak perlu lah kau pergi dari rumah.  Meninggalkan Ibu & Bapakmu. Biarlah kita hanya menyantap tempe  goreng sepotong dan dua butir nasi, yang penting kita selalu bersama.  Dan tak ada orang lain yang tahu tentang kondisi keluarga kita. Kemana  dirimu, Nak?
*****

Bang  Hamidi baru sampai rumah. Ia baru pulang ngojeg. Wajahnya sedikit  muram. Terlihat sangat lelah. Jaketnya semerawut. Biasanya begini ekspresinya ketika hasil dari ngojeg tak akan memenuhi pengeluaran untuk makan kami besok.
Aku mendekatinya dengan senyum tipis, walau hatiku pun sama semerawutnya. Lalu ku cium punggung tangannya yang legam karena tersorot sinar matahari setiap hari.
“Ingin kopi atau teh saja, Bang?” aku menawarkan pilihan.
“Teh saja.”
Lantas aku beranjak ke dapur yang hanya tersekat bilik dari ruangan ini.
Tok.. tok.. tok.. “Assalamu’alaikum,” suara seorang gadis muda terdengar dari balik pintu kayu rumah kami.
“Wa’alaikumsalam,” aku dan Bang Hamidi menjawab bersamaan.
“Biar aku saja Bang yang buka,” hatiku bergemuruh, harap yang sekian lama ini, akankah ini hari Rabu yang Zizi maksudkan itu?
Aku segera mengantarkan teh ke meja Bang Hamidi, lalu setengah berlari menuju arah pintu. Tak terasa, sudah mengalir anak sungai dari kedua mataku, penglihatanku mengabur seketika.
“Zizi..?!!” aku memeluknya erat, erat sekali. Aku tak mau lagi kehilangannya, putri tersayangku, tercintaku satu-satunya. Hanya kepadanya kucurahkan seluruh kasih sayangku. Dia permataku, harapanku ketika tua nanti aku sudah tak bisa lagi melakukan apapun. Dia berlianku, yang dari do’anya, hanya dari do’anya yang bisa menolongku di akhirat kelak.
“Zizi, jangan pergi lagi, Nak! Jangan..!” aku terus memeluknya, tapi Bang Hamidi tiba-tiba menarikku, mencoba memisahkanku dengan Zizi.
“Bu, jangan  kayak gini, ayo lepas, lepas..!” Bang Hamidi kembali menarikku, kali ini lebih kencang, pelukanku pun terlepas.
Aku sekuat tenaga melepaskan diri dari tangan kekar Bang Hamidi untuk memeluk lagi buah hatiku. Tapi ketikaku berhasil, gadis yang kini lebih kurus dari terakhir kali ku melihatnya itu, malah menghindariku.
Aku perlahan mulai mengatur emosiku, mengkin Zizi takut apabila aku bersikap histeris dan berlebihan seperti ini. Atau bahkan dia menyangka aku sudah gila? Iya, aku hampir gila karena menunggumu yang tak kunjung datang, Nak. Tapi untungnya kau lebih cepat datang kepadaku dari pada penyakit kejiwaan itu.
Aku menyusut air mataku dengan jilbab yang ku kenakan. Perlahan, wajah itu mulai jelas kupandang…
Matanya, hidungnya, bibir, dan air mukanya. Zizi kah ini? Apakah waktu telah sedikit merubah parasmu hingga menjadi semakin cantik seperti ini? Tapi mana tahi lalat di ujung pipi kananmu yang serupa dengan punya ibumu ini? Hilangkah? Kau operasikah agar tak sama lagi dengan ibu? Agar ibu tak mengenalimu?




“Aku bukan Zizi, Bu. Aku Ziza, adik Zizi. Aku… mencari Bapak di sini.”
“Bapak? Adik Zizi? Bicara apa kamu, Nak? Kamu anak ibu satu-satunya!”
Kedua mata kami bertemu, kulihat sorot wanita lain di dalamnya. Lalu ku lempar pandanganku ke Bang Hamidi yang wajahnya kini pucat pasi.
Duh, Rabu… inikah hari yang kutunggu-tunggu itu?

Noted: Penulis asli cerpen ini adalah Kang Syafroni Agustik, pemilik akun twitter @Kang_Onii *ini request dari Kang Onii langsung, harus sebutin akun twitter katanya, hehehe. Impas ya, Kang? :P* ini versi aslinya http://lembarbernyawa.blogspot.com/2012/08/rabu.html then, iseng-iseng saya revisi, karena punya ide lain untuk ending cerpen ini. Alhasil, jadilah cerpen duet ini. Taddaaa..!! ^_^
Special thanks to Kang Onii yang udah ngizinin cerpen ini dipajang di blog saya. Syukran, Cikgu..! :)

Sincerely,
Riana Yahya




Masih Pacaran? #Udah Putusin Aja! :P



Pacaran. Kata yang udah nggak asing lagi lah ya di telinga para remaja zaman sekarang. Bahkan, jomblo itu menjadi suatu aib tersendiri, di bilang nggak laku lah, kuper, or many more. So, setiap ketemu temen-temen, bahasannya nggak bakal jauh deh dari topik ini; pacaran. Hufffttt... -,-“ 
Seperti barusan tadi, salah satu sahabat SMP saya menelpon, panggil saja dia “Bunga” *halah, serasa lagi di investigasi inih* :D
Awalnya pembicaraan berlangsung seperti biasa, layaknya sahabat yang sudah lama tidak bertemu dikarenakan jarak dan waktu yang memisahkan mereka, #tsaaah. Lalu pembicaraan berlanjut ke sesi klarifikasi “perubahan” saya yang dia dengar dari teman lainnya...
“Na, katanya sekarang udah berubah, ya?”
“Berubah gimana?”
“Ya... katanya sekarang udah nggak pernah pake jeans, pake rok terus.”
“Hehehe. Iya, do’ain aja supaya istiqamah.”
“Cieee... jadi ibu ustadzah atuh sekarang mah?!”
“Hahaha. Aamiin..”
Obrolan panjang terus berlanjut, saya share tentang seringnya berpetualang mabit di masjid-masjid,  ikut kajian di luar kota, aksi-aksi terjun ke jalan, dan padatnya jadwal silaturrahim dengan ikhwah saat ramadhan kemarin. Bukan untuk apa-apa, hanya untuk membuktikan, “Nih, gue jomblo, dan still sibuk kemana-mana, nggak terpaku dan menggalaukan status gue sebagai jomblo. Tetep bisa gaul dan ngebolang ke mana-mana, punya temen dari berbagai daerah, tanpa harus setiap saat laporan sama yayang dan minta izin dia untuk pergi kemana-mana,” that’s all..!!
Karena sering saya mendengar alasan yang nggak masuk akal dari teman-teman saya yang masih pacaran, “Kalo nggak pacaran nanti nggak bisa gaul, mau jalan sama siapa? Trus nggak ada bahan obrolan,” dan saya telah membuktikan, itu salah BESAR! Saya bisa tetep gaul kok. Jalan sama akhwat itu lebih nyaman dari pada jalan sama pacar yang tangannya ngegandeng kamu tapi matanya jelalatan ke cewek lain, #oopss.. soal obrolan? insyaAllah obrolan kita nggak pernah kehabisan bahan dan tentunya lebih berbobot dari pada sekedar, “tadi malam kamu tidur jam berapa? Kok lama sih nggak bales sms aku? Smsan sama cewek lain, ya?” ujung-ujungnya berantem deh #eh :P
Ok, lanjut ke obrolan saya sama Bunga.
“Na, Bunga mau curhat nih..”
“Hmm.. sok, sok.”
“Bunga sekarang lagi deket sama cowok, dia bilang sayang sama bunga, kangen, cinta, dan segala macem, tau kan lah ya gimana kalo orang pacaran?!”
“He’eh..” *pasti lebay :P*
“Terus ada gosip dia pacaran sama cewek lain. Bunga tanya aja ke cewek itu, dia ngangguk sambil senyum. Sakit hati, na, sakiiit..”
“Hehehe...” *begitulah kalo orang pacaran, sakit hati mulu :P*
“Pas ketemu lagi sama cowok itu, dia ngajak Bunga pulang bareng, kayak yang nggak punya dosa, biasa aja. Bunga tolak lah, masih kesel. Kata temennya sih, cewek itunya aja yang ngejar-ngejar cowok Bunga. Gimana ya, na? Bunga harus gimana?”
“Ehem, yakin nih mau denger solusi dari Riana??”  *saya selalu nanya gini dulu ke temen yang minta solusi, supaya nggak nyesel pada akhirnya :D*
“Pasti jawabannya jangan pacaran nih..” *FYI, sebelumnya saya sempet cerita juga ke Bunga tentang prinsip saya untuk ngejomblo sampe halal nanti*
“Hahaha... tuh tau..!!”
Dan tausyiah pun dimulai :P
“Karena penyesalan pasti datangnya di akhir, dan kita nggak bisa merubah yang dulu pernah terjadi. Kadang sering iri sama temen-temen yang sama sekali belum pernah pacaran seumur hidupnya. Betapa “mahal”nya mereka, masih terjaga, suci, belum tersentuh sama sekali.”
“Iya sih, na. Tapi susah...”
“Bisa kok, dicoba deh, belum telat. Cowok yang ngajak pacaran mah banyak bohongnya. Cuma ngambil manisnya aja, abis itu dibuang. Kan gampang, tinggal putus, dia nggak punya tanggung jawab apapun, beda sama nikah. Lagian apa sih untungnya pacaran? Maksiat iya, duit abis mulu buat jalan, cemburu, sakit hati.. Udah putusin aja!!”
“Iya ya, walaupun nggak ngapa-ngapain, kalo ketemu pacar pasti hati rasanya dag dig dug.”
“Nah, Allah pasti cemburu, tuh. Walaupun pacarnya sering ngingetin shalat, bangunin tahajud, nyuruh ngaji, tapi tetep aja... coba tanya jujur, apa niat kita shalat, tahajud, ngaji, bener-bener buat Allah atau cuma untuk sekedar bilang, ‘Iya, aku udah shalat, udah tahajud, udah ngaji,’ ke si do’i??”
“Hmmm.. na udah dewasa ya sekarang?”
“Iya lah.. udah mau 20 :P” 
“Nanti pasti dapetin pacarnya anak masjid ya?”
“Pacar? Suami! Ya.. wallahu’alam, percaya aja sama janji Allah, perempuan yang baik untuk lelaki yang baik, perempuan yang keji untuk lelaki yang keji.”
“Tapi kan na, pasti ada PDKT dulu, masa langsung nikah?”
“Ada, ta’aruf, tapi nggak kayak PDKT pas pacaran. Jadi biasanya si cewek ngasih biodata ke guru ngajinya (cewek), si cowok juga ngasih biodata ke guru ngajinya (cowok), habis itu tukeran biodata, kalau cocok lanjut, ketemuan untuk ngeliat sosok asli si calon, kalau cocok lagi langsung dilanjut lamaran, terus nikah deh.. Jadi relatif cepet prosesnya, nggak kayak orang pacaran yang udah bertahun-tahun tapi nggak ada kejelasan.”
Pahamilah para muslimah, LELAKI SEJATI tak pernah ajak pacaran..


 With Love, 
Riana Yahya





Rabu, 01 Agustus 2012

Muhasabah Cinta

            Mari sejenak bermuhasabah diri dengan sepenuh cinta, menengok lembaran kehidupan yang telah kita lalui, agar menjadi pelajaran bagi kita untuk hadapi kehidupan di depan….



            Sobat, adakah kita teladani Rasulullah yang tiap malamnya tak pernah berlalu tanpa qiyamullail? Ia berlama-lama berdiri, ruku’, dan sujud, hingga bengkaklah kedua kakinya. Padahal, ia telah terampuni dosa yang lalu dan yang akan datang. Padahal, Allah telah jaminkan jannah untuknya. Sedangkan, kita yang dosanya bagai buih di lautan, bagai pepasir di pantai ini, masih berani dan tenang saja menikmati malam-malam bernyenyak dalam gumul selimut hangat.
            Sobat, adakah air mata kita sebermanfaat milik Ibnu ‘Abbas yang menangisnya karena gigil takut kepada Allah, hingga butalah kedua matanya? Ataukah air mata kita lebih banyak menetes karena kekecewaan kita terhadap makhluk, karena harapan yang tak terpenuhi, bahkan karena sinetron dan film picisan itu?
            Sobat, adakah kita seistiqamah Muhammad Al-Fatih? Yang sejak balighnya tak pernah meninggalkan satupun shalat wajibnya, tak pernah tinggalkan satupun puasa Ramadhannya, tak pernah lebih dari sebulan mengkhatamkan Al-Qur’an, tak pernah kehilangan satu ayat pun hafalan Al-Qur’an, tak pernah tinggalkan satu malam pun berqiyamullail, dan tak pernah meninggalkan puasa ayyaamul bidh.
            Sobat, adakah kita sedermawan ‘Abdurrahman ibn ‘Auf yang kisaran angka shadaqahnya untuk penduduk Madinah bisa mencapai 40.000 dinar dalam sekali bagi? Ataukah kita masih saja baralibi dengan jawaban klise, “Yang penting ikhlas walaupun sedikit,” ?
            Sobat, adakah kita sejujur ‘Abdullah ibn Al-Mubarak yang walaupun sudah berbulan menjaga kebun delima, namun belum sekalipun mencicipinya? Ataukah telah berkali kita menikmati sesuatu yang bukan hak kita?
            Sobat, adakah kita setulus ‘Umar ibn Khathab yang kecintaannya pada Allah dan RasulNya melebihi kecintaannya kepada diri sendiri? Ataukah kita melakukan segala hanya untuk keselamatan dan kenikmatan diri kita sendiri?
            Sobat, adakah kita seteguh Ka’ab ibn Malik yang tak kilau oleh tawaran Raja Ghassan yang memintanya menjadi duta besar Kekaisaran Romawi Timur? Padahal saat itu di Madinah, di kota kelahirannya sendiri, ia sedang merasakan tersiksanya dikucilkan karena hukuman. Ataukah kita sering kali tunduk, memohon, bahkan menghamba, kepada seorang musyrik demi tahta dan kekuasaan?
            Sobat, adakah kita setegar Bunda Hajar? Yang karena imannya pada Allah, merelakan suaminya, Ibrahim, pergi meninggalkannya hanya berdua dengan bayi mereka yang masih merah, di lembah kosong tak berpenghuni, gersang, terik, liar. Ataukah kita akan menarik manja pasangan kita yang hendak pergi atas perintah Allah?
            Sobat, adakah kita malu kepada Nu’man ibn Qauqal? Yang walaupun dalam keterbatasan fisiknya yang cacat, yang pincang, tapi ia tetap mengikuti Perang Badar, dan menemui syahidnya dalam Perang Uhud. Ataukah kita yang dalam kesempurnaan fisik ini, masih saja mencari beribu alasan untuk menghindar pergi ke medan jihad?
Yang berlalu jelas tak dapat diulang kembali ‘tuk diperbaiki. Jangan buat sesal kini tersia tiada berarti. Mari istighfar, memohon Allah sudi ampuni diri. Lalu perbaiki diri ditiap bilangan hari :)

Sincerely,
Riana Yahya