Minggu, 27 Desember 2015

[BUKAN] RESENSI BUKU

Buku itu kayak makanan, film, atau musim. Selera tiap orang bisa beda-beda (di bold, underline, italic). Makanya, saya hanya sekali duakali me-review atau me-resensi buku, itu pun karena dikasih tugas sama guru Bahasa Indonesia. Kalau boleh milih, saya mending di suruh ngerjain soal matematika, deh. Bikin resensi buku itu susah banget pake kuadrat (bagi saya)!

Karena susah banget pake kuadrat, di catatan kali ini saya bukan bermaksud me-review, hanya ingin bercerita dan berpendapat mengenai tiga buku yang semingguan ini saya baca.

Buku pertama, Cado Cado 3; Susahnya Jadi Dokter Muda. Cado Cado ini singkatan dari Catatan Dodol Calon Dokter. Kayak judulnya, buku ini bercerita mengenai kisah ko-ass dodol. Sejujurnya sih, buku humor ini kurang berhasil bikin saya ngakak. Beberapa kali ketawa sih pas baca, atau senyum-senyum, tapi kurang berasa ggrrrrr-nya.  Sebenernya adegannya lucu, tapi eksekusi penyampaiannya kurang gimanaaa gitu. Saya udah kayak komentator stand-up comedy belom?



Tapi anehnya, pas chapter ending, nih buku malah berhasil bikin saya nangis. Gegara si Vena yang sebenernya cuma tokoh sampingan di buku ini. Vena yang manja tiba-tiba jadi anak tegar malah setelah kehilangan sosok ayahnya karena kecelakaan pesawat. Si penulis, Dr.Ferdiriva Hamzah yang ganteng, berhasil membangun suasana haru, apalagi pas Vena ngasih sambutan wisuda. Atau bisa jadi saya aja yang cengeng saudara, bisa jadi.

Buku kedua, Ranu. Karya duet Ifa Avianty dan Azzura Dayana. Saya yang penggemar mbak Ifa sudah sering membaca bukunya. Tapi saya belum sempat membaca buku mbak Azzura. Seringnya hanya mendengar cerita dari teman- teman, kalau buku-buku mbak Azzura kebanyakan mengambil tema tentang travelling, backpacker khususnya. Nah, dari situ, sebenernya akan terasa perbedaan antara tulisan mbak Ifa dan Mbak Azzura ketika baca novel satu ini. Kalo saya nggak salah nebak nih, mbak Azzura banyak ambil bagian ketika para tokoh Ayuni dan Dios berpetualang di Baduy dan Gunung Gede. Sementara, mbak Ifa banyak ambil bagian di tokoh Ranu sang high-cost traveler dan Irene sang pimred majalah wanita terkemuka di Indonesia. FYI, mbak Ifa sering bikin tokoh high-class di novel-novelnya. Bahasa inggris berseliweran di mana-mana. Dan sering diselingi lirik-lirik lagu inggris pada zaman saya belum lahir. Dan di novel ini, mbak Ifa tidak melepaskan ciri khasnya itu.



Masuk ke konten, novel Ranu ini di cover depannya bertuliskan Novel Islami. Tapi pas dibaca nggak islami banget kok, kalo dibandingin sama novelnya Kang Abik. Anehnya, saya malah ngakak waktu baca novel ini (dibandingin sama buku humor pertama yang saya baca). Dialog antar tokohnya kocak abis. Contohnya, nih.
“Halo, Nyet, di mana lu?”
Nyat-nyet, nyat-nyet, dasar gorila!
“Gue di suatu tempat di mana tidak ada seekor gorila pun di sini.”

Sayangnya, ending-nya nggak seperti yang saya pingin. Itu aja kelemahan novel ini. Koplak banget ya alesan saya? Biarlah..

Buku ketiga novel karya Andrea Hirata, Ayah. Jujur, saya bukan penggemar beliau. Pernah sih baca Laskar Pelangi, waktu SMA kalo nggak salah. Tapi nggak terlalu membekas diingatan saya, mungkin memori saya aja yang error. Jujur lagi, punteeeuuun pisannya, kepada seluruh penggemar berat Bang Andrea, harap lihat ke awal tulisan ini, yang sengaja di bold, underline, italic sama saya. Dari segi cerita, sebenernya biasa aja. Tapiiii... ini tapinya banyak loh. Ini novel epik banget! Seringkali saya heran pas baca, kok kepikiran yaa.. kata-kata kayak gini. Asli, pilihan kata-kata Bang Andrea, mulai dari puisi, deskripsi, sampe dialog di novel ini, pecaaah!



Misalnya salah satu puisi romantis ini,
Waktu dikejar
Waktu menunggu
Waktu berlari
Waktu bersembunyi
Biarkan aku mencintaimu
Dan biarkan waktu menguji

Atau dialog kocak ini,

“Mulai sekarang hapus semua nama perempuan itu!” Sabari ragu, Ukun geram.
“Hapus nama perempuan itu!” Ukun tak main-main.
“Akan kuhapus, Kun.”
“Tekadkan niatmu!”
“Aku bertekad, Kun.”
“Janji?!”
“Janji, Kun.”
Sabari tampak muak kepada dirinya sendiri, wajahnya penuh tekad. Dia ingin menyudahi dominasi Marlena dalam hidupnya.
“Buang puisi-puisi konyol itu!”
“Akan kubuang!”
“Hancurkan fotonya!”
“Akan kubumihanguskan!”
“Jangan biarkan seorang perempuan membuatmu terlena!”
Sabari terpaku.
“Apa katamu? Marlena...?”
*guling-guling saya bacanya*

Setelah baca novelnya ini, nggak heran lah saya kenapa sampe sebegitu banyaknya penghargaan untuk Bang Andrea. Karena kalo penulis lain yang nulis nih cerita, mungkin akan jadi flat dan boring (Inti ceritanya “Cuma” lelaki yang cinta sampe mati sama perempuan yang jadi cinta pertamanya) Tapi karena  Bang Andrea yang nulis, dikemas sedemikian rupa, jadilah novel apik yang epik ini. Saya satu suara sama endorsement Thomas Keneally, “I am fascinated by Andrea’s capacity to write, such a talanted young writer.”


Sincerely,
Riana.
28 Desember 2015.
Pukul 2 dini hari hingga subuh berkumandang

Di saat insomnia menyerang saya (lagi) 

Minggu, 20 Desember 2015

Ahad Itu...

Ahad, 20 Desember 2015.

Sekitar pukul 8 pagi. Agak siang dari biasanya. Jadwal biasa kami (FLP Karawang) menggelar taman bacaan gratis setiap ahad di pendopo Lapangan Karang Pawitan Karawang sekitar pukul 7 pagi. Tapi pagi ini kami terlebih dulu longmarch hingga kantor PEMDA Karawang, membentangkan spanduk sepanjang 30 meter dan mengumpulkan dana bagi saudara-saudara kita di Palestina dan Suriah. Relawan berbagai komunitas hadir berkumpul di Masjid Al-Jihad Karawang sejak pukul 6 pagi, dari mulai Karawang Peduli, ACT (Aksi Cepat Tanggap), 1 day 1 juz, Aku Berdonasi Karawang, Backpacker Karawang, dan masih banyak lagi. Meski orangnya 4 L, Lu Lagi Lu Lagi :D

Bukan karena nggak ada lagi orang, bukaaan! Tapi kebanyakan penyakit relawan atau aktifis ya bagitulah, mungkin kebanyakan energi sampe jarang banget yang puas di satu komunitas. Iya kan? Ah, ngaku deh! Saya kasih contoh nih, temen yang udah saya anggap jadi kakak saya sendiri (ngaku-ngaku, siapa juga yang mau nganggap situ adiknya! XD) Teh Lina Astuti. Satu orang ini harus jadi amoeba dan membelah diri (halaaah!) jadi pengurus di tiga komunitas, Aku Berdonasi Karawang, Backpacker Karawang, dan FLP Karawang. Hebat, kan? Siapa dulu adiknyaaa..  bukan saya!

Back to the line! Karawang ituuu, masyaallah.. kepedulian untuk sesama-nya luaarrr biasaaa! Terbukti, dari aksi #GEMPAR (Gerakan Masyarakat Peduli Palestina dan Suriah) yang sebentaran itu, cuma sekitar tiga jam, tapi dana yang terkumpul, Alhamdulillah mencapai sekitar Rp.3,6 juta. Kalian luaarrr biasaaa! Jazakallah khairan katsir, semoga amal yang diberikan dibalas dengan sebaik-baik balasan oleh Allah SWT dan dapat membantu meringankan beban saudara-saudara kita di Palestina dan Suriah. Pun, jangan lupa untuk menyisipkan mereka di setiap do’a yang kita panjatkan. Agar kemanusiaan dapat berdiri tegak di tanah Palestina dan Suriah.

Photo by: Syafroni Agustik

Agenda selanjutnya setelah Aksi #GEMPAR adalah #NGAMPAR. Nggak ada akronimnya sodarah-sodarah! Itu kata asli. Dari kata asal “hampar”. Coba cek KBBI anda! Yup, kami menghampar tikar dan buku-buku, dari mulai buku anak, remaja, hingga dewasa, dari mulai komik, fiksi, non-fiksi, hingga majalah untuk dijadikan taman bacaan gratis. Program FLP Karawang ini sudah berjalan kurang lebih 2 tahun, yang kami namakan #KM2 (Karawang Membaca dan Menulis). Tapi, mulai ahad ini, #KM2 sudah diup-grade menjadi #KM3, Karawang Membaca, Menulis, dan Memasang Puzzle!

Hafidz dan Ayah-Ibu
Tadinya hanya sekedar jadi “mainan” bagi para relawan penjaga taman baca. Tapi, diluar dugaan, ternyata puzzle-puzzle ini jadi satu atraksi yang menarik perhatian anak-anak untuk mampir ke taman baca. Salah satunya Hafidz ini. Usianya baru 3,5 tahun jadi belum bisa baca. Tapi betah bingit di taman baca, ngutak-ngatik puzzle. Semua puzzle yang ada di taman baca sudah dicoba. Such a genius boy!

A Precious Princess
Anak perempuan ini seneng juga main puzzle. Usianya 5 tahun, baru masuk TK kecil. Tapi sudah bisa mengeja huruf 2 kata-2 kata. A precious princess bagi bundanya. Selagi berbincang dengan bundanya, saya yang sok tahu nyeletuk, “Anak bungsu, bu?” Karena melihat anaknya yang masih kecil dan bundanya yang mungkin sudah hampir kepala 4. Tiba-tiba mata itu berkaca, “Anak pertama, setelah 12 tahun pernikahan.” Huaaaah.. saat itu pingin banget noyor kepala sendiri! Makanya jangan sok tau, woooy! A mistake, a big mistake.. but, still need acting cool, “Oh.. anak satu-satunya?” Sang bunda mengangguk, tersenyum. Ah, air mata bahagia sepertinya..

Ahad itu, masih ada beberapa pengunjung anak-anak lagi di taman baca, tentu didampingi orang tuanya. Dan bagi saya yang suka sekali anak-anak, tingkah mereka adalah the best entertainment ever.  Smiles come without me realize..

Bersama Mba Isa

Ahad itu, semangat membaca dari anak-anak yang datang membuat saya malu. Mereka yang masih belum bisa membaca dan hanya melihat gambar-gambar di bukunya, mungkin membuka buku lebih sering dari pada saya. Mereka yang masih terbata belajar membaca, mungkin membuka buku lebih banyak dari pada saya.

Kemudian, soal menulis. Sudah berapa lama tidak menulis, neng? Bahkan sekedar status facebook pun enggan saya tulis beberapa minggu ini. Hanya sekedar like atau share status teman jikapun membuka jaring sosial itu. Beberapa lomba sudah expired, tapi belum juga ada cerita yang ditulis. Belum ada ide. Mentok. Saat ide nggak datang seperti yang kamu mau, itu artinya harus dicari. Saya tau itu. Dan solusi terbaik untuk mencari ide untuk nulis adalah baca!


Booklist

Untuk itu, empat buku di atas ini saya pilih untuk jadi teman “bertapa” saya beberapa minggu ini. Empat buku dengan tema berbeda satu sama lain. 1) Ranu, karya duet Ifa Avianty dan Azzura Dayana yang menceritakan petualangan di Suku Baduy; 2) Cado-Cado 3, buku kocak calon dokter yang katanya bikin Kang Tams (salah satu teman dari FLP Bandung yang sekarang tinggal di Karawang) ketawa sendirian di kelas pas dosen lagi serius-seriusnya ngajar; 3) Ayah, novel romantis karya Andrea Hirata yang direkomendasikan Mba Nuy, teman sesama FLP Karawang; dan  4) Casual Vacancy karya J.K.Rowling, semacam novel misteri detektif-detektifan gitu, entah bisa selesai dibaca atau lambai-lambai bendera putih untuk novel tebal ini.

Kemudian, kegiatan ahad itu... diakhiri dengan do’a rabithah. Dalam lingkaran yang semoga disaksikan para malaikat-Nya. Hati-hati saling berpaut. Uhibbukafillah..  


Sincerely, 
Riana



Rabu, 28 Oktober 2015

Ibarat Sebuah Pendakian

Ibarat pendakian, perjalanan manusia menuju puncak yang diinginkan tidaklah mudah. Perjuangan untuk terus melangkah melawan kelelahan.  Kebijakan untuk memilih jalan yang benar dan aman. Kebesaran hati untuk mempersilahkan mereka yang ingin mendaki terlebih dulu. Kesetiaan untuk menunggu dan menemani mereka yang ingin dibersamai.

sumber:www.loop.co.id

Ibarat pendakian, perjalanan manusia menuju puncak yang diinginkan menyirat banyak makna. Bahwa sesekali, kita harus melihat jauh ke depan, menentukan titik yang ingin di tuju. Namun seringnya, kita harus perhatikan tempat yang sedang kita tapak, untuk memastikan bahwa kita memijak dengan baik. Bahwa suatu waktu, kita harus mempercepat langkah agar sampai pada saat yang kita inginkan. Namun terkadang, kita harus memperlambat langkah, bahkan menghentikannya, agar terbaca segala suratan keagungan alam semesta, agar termaknai segala siratan pelajaran yang dihamparkan oleh-Nya.

Dan, ibarat pendakian, puncak bukanlah tujuan akhir para pendaki. Rumah. Pulang ke tempat dimana kedatangan kita telah ditunggu, adalah tujuan akhir kita.

Proses menuju dasar, jauh lebih melelahkan dari yang dibayangkan. Karena telah banyak energi yang telah dihabiskan saat berada di puncak. Karena separuh hati masih ingin merasakan ekstase keindahan puncak. Karena kedua kaki enggan diajak melangkah turun.

Tapi, dari pendakian kita belajar bahwa...

“Tidak selamanya puncak memberikan kebahagiaan
Dasar pun mampu memberikan keajaiban
Terkadang, manusia berada pada dua posisi itu
Sehingga lahirlah kesabaran dan perjuangan.”
-Fauzi Yusupandi-


Sincerely,
Riana

28 Oktober 2015.

Minggu, 25 Oktober 2015

Hari Ini, Purna Sudah

 Alhamdulillah, hari ini, purna sudah.. satu dari sekian banyak kewajiban, satu dari sekian banyak harapan.

 

Kewajiban saya kepada keluarga untuk menyelesaikan studi sarjana ini dengan tepat waktu, selama 4 tahun. Dan, harapan keluarga kepada saya agar mendapat gelar sarjana dengan predikat Cum Laude. Didedikasikan khusus untuk keluarga saya tercinta, karena kalian adalah alasan paripurna saya hingga dapat mencapai titik ini.



Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, Rabb semesta alam, karena atas takdir-Nya lah saya dapat menyelesaikan studi sarjana ini. Shalawat selalu tercurah limpah bagi sang suri tauladan seluruh manusia, Muhammad SAW. Sepenuhnya saya menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, tidak akan mungkin bagi saya untuk menyelesaikan studi ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan setulus terima kasih kepada:
(1) Ibu Putu Oktavia, ST., MA., ME., selaku dosen pembimbing dan dosen wali atas segala bantuan moril maupun materil; atas segala pembelajaran berharga yang diberikan selama ini; juga atas segala baik sangka yang selalu memotivasi saya agar dapat menjadi sebaik yang ibu sangka-kan.
(2) Bapak Ir. Suwardjoko Warpani, MTCP., selaku Ketua Program Studi Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi dan Sains Bandung.
(3) Seluruh dosen Program Studi Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi dan Sains Bandung atas segala ilmu yang diajarkan selama ini. Semoga tercatat menjadi amal jariyah yang tak kunjung habis pahalanya. 

Selain itu, saya juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada orang-orang yang telah berjasa dalam kehidupan saya, yakni:
(1)  Keluarga saya tercinta; Papah (Yahya Basri), Mamah (Sakinati), dan kedua kakak laki-laki saya (Zakaria Yahya dan Achmad Akbar). Terima kasih atas segala dukungan dan perhatian, pun atas segala usaha yang tercurah untuk menjadikan si bungsu ini seorang sarjana. Semoga segala harapan atas diri ini dapat terwujud satu per satu, tentu teriring do’a dari kalian dan ridho dari-Nya.
(2)  Genk Ciwi-Ciwi PWK 2011 as my best friend; Rina, Saka, Ririn, dan Tami. Rekan seperjuangan, senasib-sepenanggungan. Thank you for the time that we spend together. Tawa, bahagia, susah, payah, that we share together. Keep struggling!! Kita tahu, perjalanan kita tidak terhenti di sini. This is just the point to start, and the real challenge is coming next to you. Sukses!! Dan cepet ketemu jodoh. Aamiin..

(3)  Seluruh alumni dan mahasiswa Program Studi Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi dan Sains Bandung. Semoga kita dapat mengaplikasikan ilmu dan idealisme yang kita miliki untuk membangun negeri tercinta ini. Indonesia butuh banyak planners yang kompeten untuk itu, semoga kita menjadi bagian darinya.
(4)  Genk Friendship Girls; Dewi, Lela, Putri, Tuti, yang sudah menjadi sahabat saya selama 10 tahun ini, dan semoga last forever. Terima kasih atas kesetiaannya.

(5)  Ana Rizkia (PWK 2012) dan Kak Nurika (PWK 2010) yang membantu banyak untuk survey lapangan, serta semua pihak yang telah membantu dalam merampungkan Tugas Akhir ini.
(6)  Semua hal yang menjadi penyemangat dan mood booster saya; semua pengisi song list di laptop saya, mochacinno di pagi hari, najla my little niece, dan pelengkap separuh agama saya yang masih dirahasiakan-Nya.

Akhir kata, semoga Allah SWT membalas segala kebaikan semua pihak dengan sebaik-baik balasan.

Sincerely, 
Riana
24 Oktober 2015


Senin, 12 Oktober 2015

Catatan Perjalanan II: Naik, Naik ke Curug Lalay with Backpacker Karawang

Curug Lalay, salah satu obyek wisata Kabupaten Karawang yang tepatnya ada di Desa Medalsari, Kecamatan Pangkalan. Ini perjalanan ketiga saya ke curug, setelah curug di Cimahi saat saya masih SMA awal dan curug di Taman Safari Bogor saat saya masih tingkat awal kuliah, saya lupa kedua nama curugnya. Yang saya ingat, perjalanan menuju kedua curug tersebut tidak memakan waktu lama, sekitar 15-30 menit. Medan yang dilewati juga tidak berat, jalur sudah bagus, tanjakan sudah berbentuk pijakan tangga.

Bayangan seperti itu juga yang saya pikirkan untuk trip ke Curug Lalay kali ini. Not a big deal lah yaa..! toh cuma ke curug, bukan ke gunung, pikir saya. Meski ini perjalanan pertama saya nanjak dengan teman-teman, karena sebelumnya selalu dengan keluarga, kedua kakak laki-laki saya. Tapi malah bikin saya lebih excited, bahkan mulai dari packing di malam sebelumnya. Karena sebelumnya saya cuma bawa diri, semua-muanya udah di handle sama kakak saya. Tapi kali ini saya harus menyiapkan semuanya sendiri.

Sesuai perjanjian, titik kumpul di lampu merah by-pass Karawanng jam 5.30. Setelah saling menunggu; yang belum datang, yang ingin sarapan terlebih dulu, yang ke mini market untuk belanja logistik, akhirnya kita berangkat sekitar jam 7. Total peserta yang ikut trip ini 34 orang, Sebagian besar akhwat (9 orang) naik angkot sewaan untuk menuju ke lokasi curug. Here it is, geng angkoters; Saya, Teh Lina, Teh Ika,  Teh Iis, Teh Lala, Teh Dede, Teh Bentang, Teh Mega, dan Teh Ulfah alias Pupu alias Mawar (bukan buronan tapi). Sebenernya, di geng angkoters juga ada Kang Oni dan Kang Deden yang bertugas jagain akhwat-akhwat kece supaya nggak diculik supir angkot, haha. Sisanya, 23 orang konvoi naik motor. Perjalanan naik kendaraan dari Karawang Kota ke Pangkalan ditempuh sekitar 1,5 jam. Lumayan lama karena 7 kali harus kena macet akibat ada yang besanan, somehow bikin Kang Oni baper, eeaaaa..

Kita mulai nanjak sekitar jam 9. Dan, ternyata medannya... wow banget sodarah-sodarah! Mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera, bersama teman berpetualang, ingat OST Ninja Hatori ini? kayaknya pas buat mendeskripsikan medannya. Beberapa kali harus mendaki dan beberapa kali juga harus membelah sungai. Masalahnya adalah, bagi newbie seperti saya, jalurnya bikin nyali ciut. Dari awal aja udah disuguhin jalur yang kira-kira cuma 20 centi, cuma muat buat satu kaki. Salah napak, wassalam deh, samping udah langsung jurang yang menuju sungai dengan dasar bebatuannya. Waktu nanjak, nggak ada jalur tangga seperti yang saya perkirakan, jadi harus mikir, nih kaki harus bertapak ke mana supaya nggak kepeleset. Beberapa kali harus lewati sungai juga. Untungnya lagi musim kemarau, jadi air di sungai agak kering dan arusnya juga cukup tenang. Tapi lagi-lagi, harus milih untuk napak dibatu mana, supaya kaos kaki nggak basah. Sayangnya, saya berkali-kali jatuh kepeleset di bebatuan sungai gegara licin atau emang kaki yang kecapekan udah lemes banget. Terkadang saya ambil jalan aman untuk nyebur ke sungai, nggak dalem sih, cuma sekitar satu jengkal.

Bukan cuma medan yang jadi tantangan, tapi juga cuaca. Waktu nanjak itu, subhanallah, jam 9.30 aja udah panas banget. Setengah jam jalan aja udah kerasa capek banget, nafas udah senin-kamis, padahal belum apa-apa. Langkah kaki mulai berat. Tiap denger suara air, udah mulai berhalusinasi kalo air terjunnya udah di depan mata. Paraaah..!!

Untungnya, saya dibersamai oleh teman-teman kece, especially Teh Lina, Teh Ika, Uwi, Ka Mamet dan Mas Yuli. Tiap saya sudah mulai lelah dan melambat, rombongan depan berhenti dulu, menunggu saya untuk berjalan bersama lagi. Sementara rombongan di belakang, tetap sabar untuk tidak menyusul saya terlebih dulu. Tiap saya mulai capek, semuanya ikut menunggu saya untuk istirahat.


 With Teh Ika (kiri) dan Teh Lina (kanan)

Akhirnya, air terjun yang dituju terlihat di depan mata setelah 2,5 jam perjalanan. Dan hal yang pertama dilakukan setelah sampai adalah... nyebur? Bukan, makan! Saya bukan tipe orang yang suka sarapan, begitupun pagi itu. Saya cuma nyicip setengah potong omlet dan bolu caramel yang saya packing untuk makan siang. Jadi, begitu sampe, langsung ngeriung untuk makan bersama. Nikmatnya itu... nggak ada yang ngalahin kalo makan waktu laper banget apalagi bareng-bareng.

Setelah sapu bersih, kami segera mencari tempat shalat karena sudah masuk waktu dzuhur. Di atas belum tersedia mushalla, mungkin karena pengunjung pun belum begitu banyak. Jadi kami mencari tempat yang bebatuannya lumayan datar. At least, waktu sujud nggak nyusruk ke bawah. Sepertinya ini jadi pengalaman pertama saya, shalat di atas bebatuan dengan diiringi suara aliran air terjun. Masyaallah... kerasa banget betapa kecilnya kita di tengah agungnya ciptaan-Nya.

Next schedule adalah agenda yang paling ditunggu. Yup, main air! Padahal tadinya nggak niat untuk nyemplung, bahkan saya nggak bawa salinan selain kaos kaki dan rok. Tapi apa mau dikata, iman saya tidak cukup kuat untuk menolak godaan dari air terjun yang seger banget. Forget all about the worries, just jump into water! Buat apa 2,5 jam proses perjalanan susah-payah ke sini kalo hasilnya nggak dinikmatin. So, play as crazy as possible! Bahkan saya memberanikan diri untuk terjun dari tebing. Meski nggak terlalu tinggi, cuma sekitar 3 meter, tapi cukup seru untuk menantang adrenalin. Worth it!

Dan waktu selalu cepat berlalu sewaktu kita amat menikmatinya. Sudah masuk waktu ashar. Satu per satu bergantian untuk shalat. The last, ditutup dengan acara tuker kado. Meski berat, kami harus mulai perjalanan turun, agar sudah sampai di bawah saat hari belum terlalu gelap. Pun, untuk mengejar shalat maghrib di bawah.

Dengan sisa kekuatan yang ada, saya mulai perjalanan turun. Cuaca sudah jauh lebih mendukung dari pada perjalanan naik tadi siang. Tapi kondisi baju yang basah dan dingin, plus rok jins saya yang terasa lebih berat 5kg ketika basah, membuat saya kepayahan juga. Tapi saya harus segera, paling tidak sampai ke pos 1 untuk menemukan toilet, karena kebelet buang air kecil, efek dari kopi dan kedinginan saya kira. Unfortunately, di pos 1 pun belum ada toilet. Apa boleh buat, harus ditahan sampai di bawah nanti. Kata Ka Mamet, itu dijadiin motivasi aja supaya bisa sampe bawah as soon as possible. Bisa sih, bisa!

Meski kaki sudah sakit-sakit, tapi nggak ada banyak waktu untuk istirahat karena udah mulai gelap. Have to force it! Sampai batas titik nadir, Riana! You can do it! Sakitnya nggak usah dirasain, liat aja ke depan, fokus, dan terus melangkah. And finally... sampai ke bawah pas waktu maghrib. Toilet mana wooy, toileeet!! :D

Perjalanan yang sangat menyenagkan. Dan, dari trip ini saya benar-benar belajar banyak hal... Bahwa, saya mungkin tidak akan pernah tahu sebesar apa kemampuan saya, jika saya tidak mecobanya hingga ke titik nadir saya. Dan saya, sayangnya, terlalu takut, atau manja? untuk mencoba hingga ke titik nadir saya. Oleh karena itu, siapa yang membersamai saya adalah satu hal yang terpenting. Hingga saat saya tertinggal di belakang, ada seseorang yang setia menunggu saya, meski ia harus menghentikan sebentar langkahnnya. Berbalik ke belakang, sambil tersenyum mengulurkan tangannya untuk saya ketika tanjakan di depan cukup curam. Teh Lina dan Uwi, terima kasih banyak untuk uluran tangannya! Pun, Teh Ika dan Mas Yuli, yang sengaja melambatkan langkah agar saya tidak menjadi yang paling belakang. Terima kasih banyak sudah menjaga saya dari belakang! And last but not least,  Ka Mamet, sang penunjuk arah yang meskipun kadang kurang meyakinkan, haha. Terima kasih untuk candaan yang membuat perjalanan ini semakin menyenangkan, pun telah meringankan beban saya dengan menenteng tas saya sejalan pulang, Thanks bro!!

Dan untuk teman-teman Backpacker Karawang, akhwat-akhwatnya yang kece badai, no problem kan ya meski mandaki gunung lewati lembah pake rok bahkan gamis?! Four thumbs up!! Pun, untuk akang-akang, yang meski nggak semua anak pengajian, tapi sangat respect kepada akhwat-akhwat. Menjaga dari kejauhan. Kalian luar biasaaa!! Wait for the next trip yaa..!

PS (Sekilas Dialog)
-Selagi kecapekan di perjalanan turun..
Ka Mamet: Riana sepertinya perlu pembimbing.
Saya: Iya nih, kang, sepertinya saya perlu imam. Hahaha.
Teh Lina: Haha. Emang bungsu mau shalat?!
Dalam hati: Imam untuk hidup saya, teh XD
-Selagi kecapekan di perjalanan naik..
Teh Lina: Jadi, mau nanjak gunung, nong?
Saya: Ha.ha.ha. (Ketawa ngos-ngosan) Nanti deh teh, kalo udah ada yang bisa gandeng saya.
Teh Lina: Gimana caranya? (Sambil senyum penuh arti)
Dalam hati: You know me so well, lah teh :))
Honestly, naik gunung adalah salah satu hal di list to do saya. Sebelum saya meninggal, saya ingin sekali saja, setidaknya, nanjak gunung. Tapi, setelah ngerasain nanjak curug kemarin, dan katanya itu hanya sepersekiannya dari nanjak gunung, sepertinya harus saya pending dulu sampai waktu yang belum ditentukan. Hahaha. Someday, kalo udah ada imam yang bisa gandeng tangan saya, eeaaaa.. XD

Sincerely,
Riana
12-10-2015

Selasa, 18 Agustus 2015

Menjadi Wanita Angkuh

“Maka, anggap saja menjadi 'angkuh' adalah bagian dari cara untuk menjaga.”

Anggaplah tulisan ini sebagai “excuse” saya untuk orang-orang yang mengira saya ‘angkuh’. Dari mulai nolak difoto, nolak salaman, nolak boncengan, nolak cintaaa *eh xD
Itu cara saya menjaga. Karena saya sadar, saya itu berharga *narsis sih, but come on, every women are precious, right?!*

Berlian limited edition di toko perhiasan itu, disimpan di ruang khusus, terpisah dari yang lain. Nggak sembarangan orang yang bisa melihatnya. Cuma orang-orang tertentu yang benar-benar mau membelinya yang bisa lihat. Sedangkan yang lain, terserah mau dijajal terus nggak jadi beli juga. Kamu, mau jadi yang mana?

Apapun, saya cuma ingin membuat wanita-wanita berharga seperti kamu yang membaca tulisan saya ini sadar, bahwa kamu terlalu berharga untuk “di jajal” sementara dengan modus “pendekatan pranikah”.

Kadang, kita perlu jadi ‘angkuh’ sebagai bagian dari cara untuk menjaga diri kita. Agar tak sembarang orang berani mendekat pada kita. Agar hanya dia yang terpilih yang berani mendatangi kita.

Kadang, kita perlu jadi ‘angkuh’ sebagai bagian dari cara untuk menjaga diri kita. Agar tertutupi hati yang rapuh kala menunggu yang tak kunjung datang. Agar tertutupi hati yang samar-samar mulai tertulis namanya.

“Bahwa, jika kita memenuhi hati dengan nama-Nya, namanya atau siapapun tak akan dapat tempat barang sedikit. Hingga saat Engkau rela padaku atas siapapun..”

Sabtu, 08 Agustus 2015

Sajak Equation

Katakanlah aku dan kau memiliki sesuatu yang sama
Manambahnya satu sama lain, akan menjadikannya lebih banyak
Menguranginya satu sama lain, akan menjadikannya tiada
Mengalikannya satu sama lain, akan menjadikannya berlipat ganda
Tapi, aku ingin membaginya saja, agar ia menjadi satu


Ini sajak kedua, setelah beberapa tahu lalu, #SajakMalam saya buat -> http://rianayahya.blogspot.com/2012/10/sajakmalam.html

Selasa, 04 Agustus 2015

Cinta adalah Rasionalitas Sempurna

Cinta bukan sekadar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna. Jika kau memehami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dengan mudah membenarkan apa pun yang terjadi di hati. Tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. Tidak lebih, tidak kurang.
Sepotong Hati yang Baru - Tere Liye

Sudah sejak lama, tapi lupa entah kapan, saya serupa pikiran dengan Bang Tere Liye ini. Kalau cinta adalah rasionalitas sempurna. Bukan apa yang orang bilang perasaan irasional, yang tak butuh alasan dan penjelasan.

Saya termasuk orang yang rasional. Saya selalu mencintai seseorang dengan rasional. Dengan runtutan alasan dan penjelasan mengapa saya bisa mencintainya. Saya bukan perempuan naif yang dapat menerima pasangan saya apa adanya. Saya punya serentetan list yang harus ia penuhi untuk dapat memenangkan hati saya. Yang baik akhlaknya, yang luas ilmunya, yang shalatnya berjama’ah di masjid, yang waktunya banyak dihabiskan untuk urusan dan kesejahteraan ummat, yang dewasa (sikapnya, bukan umur), yang memiliki penghasilan untuk menghidupi saya dan keluarga kami nanti, dan yang mencintai saya beserta keluarga saya.

Sedangkan pada mereka yang memehami cinta adalah perasaan irasional, akan dengan mudah membenarkan apa pun yang terjadi di hatinya. Meski itu salah. Mereka tak peduli dengan aturan yang ada, karena bagi mereka memang begitulah cinta, tak bisa dihentikan, tak bisa dikendalikan, tak rasional. Akhirnya, banyak kita lihat sekarang, penyimpangan yang menggunakan “cinta irasional” ini sebagai alasannya, menikah dengan pasangan berbeda agama, atau menikah dengan pasangan sesama jenis. Na’udzubillah.

Ba’da membaca dua buku “Bukan Cinderella” karya Ifa Avianty dan “Sepotong Hati yang Baru” karya Tere Liye, saya belajar tentang sesuatu, bahwa cinta itu sesuatu yang dapat kita kendalikan. Tentu Allah yang membulak-balik hati kita, tapi kita juga tentu dapat berusaha. Untuk dapat mencintai siapa yang seharusnya kita cintai. Dan sebaliknya, tidak mencintai siapa yang seharusnya kita tidak cintai.

05-08-2015
Sincerely,

Riana.

Senin, 20 Juli 2015

Ini Calon Suami Idaman Saya, Mah...

Satu pertanyaan yang sering mampir kepada saya ketika bertemu dengan saudara-saudara adalah “Neng, udah punya pacar?” dan saya selalu menjawab, “Nggak..” sambil senyum sekilas. “Ya nggak apa-apa punya pacar juga, udah gede,” saya cuma bisa diam sambil senyum lagi.

Keluarga saya memang bukan keluarga “alim”. Bagaimana ya, menggambarkannya, ya begitulah. Shalat, puasa, zakat, dijalankan. Tetapi konsep ta’aruf belum pernah ada dalam tradisi keluarga. Kedua kakak saya membawa pacarnya ke rumah kami sebelum mamah-papah melamar ke rumahnya. Mamah-papah juga kadang sering bercerita tentang saudara-saudara atau tetangga yang umurnya jauh di bawah saya tetapi sudah membawa pacar ke rumahnya. Saya paham, saya sedang disindir.

Kepada papah-mamah, saya sudah sering membahas visi saya mengenai pernikahan. Saya bilang, saya tidak ingin pacaran, nanti ta’aruf saja. Dikenalkan oleh guru ngaji atau teman, mungkin juga orang yang sudah saya kenal. Nanti kalau sudah ada juga pasti ke rumah bersama keluarganya, untuk melamar. Jodoh pasti bertamu :))

Tapi seperti yang saya bilang sebelumnya, konsep ta’aruf belum pernah ada dalam tradisi keluarga saya. Masih “ngawang” kata orang sunda mah, semacam utopia untuk keluarga kami. Saya sudah memberi berapa contoh, pernikahan Mbak Oki Setiana Dewi, misalnya. Ketika nonton infotainment saya bilang ke mamah, “Tuh mah, eneng mau nikahnya kayak gitu, nggak pake pacaran, baju pengantinnya juga syar’i.”

Tapi masih belum jitu, Mbak Oki kan selebritis. Belum ada contoh “orang biasa” yang bisa saya tunjukin ke mamah, dari kalangan keluarga khususnya. Dan ditengah usaha saya itu, datanglah sepupu saya, anak pertama dari paman saya –adik dari ibu saya–. Saya belum tahu kalo dia ini “ikhwan” sebelum dia datang membawa istrinya yang “akhwat”. Akhirnya, ada juga saudara yang se-frekuensi sama saya, hehe. 

Dengan begitu, saya dengan mudah nunjuk sepupu saya ini ketika ngasih contoh ke mamah tentang suami idaman saya. “Tuh mah, nanti eneng  pengennya punya suami kayak kakak itu...,” Aamiin, Ya Allah. Setidaknya mamah punya gambaran mengenai calon menantunya nanti. Padahal saya juga belum punya gambaran tentang calon suami saya nanti, hehe. Yaaa.. tapi kayaknya type saya nggak bakal jauh-jauh dari sepupu saya itu kok. Prototype calon suami idaman untuk para akhwat lah pokoknya mah; shaleh, pinter, ganteng, kalem. Sayang, udah punya istri *toyor kepala sendiri* XD

Tidak hanya kelebihannya yang saya contohkan kepada mamah, tapi juga keterbatasannya (ah.. di mata saya ini juga menjadi kelebihannya). Di tengah kehidupannya yang tidak berlebih, tapi masih harus menanggung biaya kuliah adiknya, menggantikan posisi ayahnya yang sudah dipanggil Allah terlebih dulu. Mungkin tidak banyak yang bisa disisihkan untuk orang tua atau mertua. Mungkin harus hidup dalam kesederhanaan. Tapi insyaallah berkah.


Selepas 2 hari 1 malam keluarga sepupu saya –ibu dan kedua adiknya– mengunjungi rumah saya pada H+2 lebaran, sepupu saya ini masih jadi topik hangat diantara saya dan mamah. “Kakak itu juga nggak pacaran dulu,” “Istrinya juga sama pakai bajunya kayak eneng,” “Mamahnya nggak boleh kerja, suruh di rumah aja nikmatin hari tua sambil main-main sama cucu, semua keperluannya ditanggung sama kakak itu,” dan sebagainya. Feeling saya sih kalo ada yang kayak sepupu saya ini dateng ke rumah, nggak bakal ditolak sama mamah, hehe. Ngarep, ya? *puk puk puk*

Sincerely,
Riana
21/07/2015

Jumat, 10 Juli 2015

Catatan Perjalanan I : Di Balik Megah Kawasan Industri KIIC, Karawang

Jum’at sore itu saya diminta menemani Teh Lina untuk membantu teman-teman Aku Berdonasi Karawang mengangkut buku-buku dan alat tulis untuk di donasikan. Terget penerimanya adalah anak-anak di sebuah perkampungan yang belum dialiri listrik, padahal lokasinya tepat di belakang kawasan industri besar di Karawang. Sebenarnya ini adalah acara penutupan dari serangkaian kegiatan yang sudah dilakukan sejak senin tanggal 6 Juli lalu oleh teman-teman KAMMI Karawang. Pesantren Ramadhan, mereka mengajarkan anak-anak untuk menghafal Al-Qur’an dari ba’da ashar hingga ba’da maghrib di sebuah sekolah yang kosong ketika sore. Ada dua bangunan yang masing-masingnya terdiri dari dua ruang kelas. Yang satu untuk sekolah dasar, dan yang lain untuk madrasah ibtidaiyah. Di seberangnya ada sebuah masjid, atau mushola kah, karena bangunannya tidak terlalu besar. Untuk berwudhu, sumber air yang tersedia adalah sumur gerek, jadi harus menimba dulu. Alhamdulillah, kalau akhwat tinggal pakai saja, karena pekerjaan para ikhwan untuk memenuhi bak tempat wudhu :))

Sejujurnya, ini adalah pertama kalinya saya mengunjungi kampung yang belum ada listriknya. Beberapa kali survey lapangan saat studio, di Sleman, Purwakarta, dan Bekasi, semua tempat-tempat yang saya singgahi semuanya sudah teraliri listrik. Bahkan, di sebuah kampung terpencil yang untuk mencapainya harus menempuh jarak dua jam perjalanan naik perahu dari di Jatiluhur, disana pun sudah teraliri listrik. Masa iya, ini di tempat yang tidak jauh dari Pusat Kota Karawang, belum ada listrik, kemana saja pemerintahnya? Pun tepat di belakang Kawasan Industri KIIC, yang didalamnya puluhan pabrik-pabrik besar dengan mesin canggih beroperasi, kemana saja dana CSR-nya? “Tidak masuk di akal!”, pikir saya.

Dari cerita teman, itu merupakan perkampungan illegal yang sudah berdiri sejak lama. Tanah yang di atasnya sudah berdiri lumayan banyak rumah penduduk itu miliki Perhutani. Karenanya, meski hidup tanpa sarana prasarana paling dasar yang seharusnya disediakan oleh pemerintah –seperti listrik– mereka terima saja tanpa bisa menuntut. Setelah mendengar cerita tersebut, saya baru bisa connect, “Oh... pantes!”

Bisa dibilang, ini adalah strategi pemerintah untuk mengendalikan pembangunan disana. Istilahnya biasa dibilang disinsentif. Disinsentif ini dikenakan terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan peraturan tata ruang berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Daerah. Jadi, setiap wilayah Kota/Kabupaten pasti punya peraturan tata ruang yang disebut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Dalam RTRW tersebut diatur pemanfaatan ruang setiap daerah, kecamatan ini untuk permukiman, kecamatan ini untuk perdagangan, kecamatan ini untuk industri, kecamatan ini kawasan lindung yang nggak boleh dibangun, dan sebagainya. Dan kemungkinan besar, jika tanah di daerah tersebut milik Perhutani maka peruntukan ruangnya bukan untuk permukiman.

Tapi kan udah terlanjur banyak rumah-rumah penduduk di sana? Nah, maka dari itu supaya nggak nambah banyak lagi, salah satu caranya adalah dengan tidak mengaliri listrik  ke daerah tersebut. Mudahnya sih, disinsentif itu bikin keadaan sesusah-susahnya supaya nggak ada orang yang bakal ngebangun di situ. Tega nggak tega sih sebenernya. Tapi nanti kalau di sana dialiri listrik, makin banyak orang bangun rumah di sana, terus tiba-tiba tanahnya mau di pake sama perhutani selaku pemiliknya yang sah, gimana? Pasti ujung-ujungnya penggusuran dan masyarakat nggak bisa nuntut apa-apa karena mereka nggak punya hak apa-apa.

Sebenernya nggak bisa nyalahin sepenuhnya ke  masyarakat juga sih, karena mereka juga tinggal di sana karena terhimpit keadaan. Kalo mereka punya uang untuk beli tanah yang legal, ngapain sih mereka ngambil resiko gede untuk ngebangun rumah di tanah illegal yang sewaktu-waktu bisa digusur? Well, ini PR besar sih buat pemerintahan kita, di daerah maupun pusat. Pas kemarin saya masuk kawasan industri KIIC itu, yang pertama ada di pikiran saya, “Kawasan segede ini mungkin bisa nyerap semua tenaga kerja produktif usia 20-35 tahun di Karawang, terus kenapa masih banyak pengangguran di Karawang?” Karawang kasusnya nggak jauh kok dari Bekasi. Pekerjanya kebanyakan pendatang dari pada pribumi. Mau nyalahin pabrik? Eits, nanti dulu. Mereka juga menerima pekerja berdasarkan kompetensinya. Waktunya masyarakat Karawang naikin kompetensi nih, dengan sektor ekonomi utama yang mulai beralih dari pertanian ke industri, ada baiknya pendidikan lebih ditekankan di SMK teknik yang pas lulus udah siap pakai sama pabrik. Pola pikirnya juga harus mulai diubah, jangan puas dengan ijazah SD atau SMP yang ujungnya bakal dikirim jadi TKI. Tanpa memandang rendah para TKI yang berjuang di luar, saya rasa jadi TKI itu banyak mudharatnya, terutama bagi perempuan yang sudah berkeluarga. Mungkin bisa dihitung berapa keluarga yang masih utuh ketika sang istri balik ke kampung. Bu, suami yang ibu tinggalin di rumah itu laki-laki kan, bukan malaikat?
Hwaaa... Jadi ngelantur kemana-mana, kan. Mungkin karena udah terbiasa diajar untuk berpikir kayak gitu. Buat para perencana, sudut pandang itu nggak boleh cuma dari satu sisi, harus menyeluruh. Pun dicari akar masalahnya, yang biasanya mentok di ekonomi, pendidikan, dan kelembagaan. Untuk dua poin pertama, ekonomi dan pendidikan, saya optimis Indonesia pasti bisa lebih baik. Tapi untuk poin terakhir –yang sebenernya menjadi gantungan dua poin pertama– kalo dipikirin ujung-ujungnya saya selalu berdo’a untuk punya suami dari Eropa terus dibawa ke negaranya, hahaha XD

Last, do’a saya, semoga... suatu hari Indonesia Raya menjadi Jaya!


11/07/15
Regards,

Riana