Sabtu, 23 Februari 2013

However…


Bagaimanapun saya mencoba melupakan,
Dan merasa telah dilupakan dan terlupakan.
Pada nyatanya…     


          

Sabtu, 09 Februari 2013

Gong Xi Fa Cai



Terlahir sebagai cinatong-Papah suka ngeledek dengan sebutan ini-akronim dari cina sepotong -___-
Mau nggak mau mengakrabkan saya dengan kata ini. Saya mendapatkan setengah keturunan Chinese itu dari papah yang tadinya seorang budhist, lalu Alhamdulillah kembali ke fitrahnya sebagai Muslim sebelum menikah dengan mamah saya. Waktu itu mamah mengajukan mahar termulia yang tak ternilai harga; dua kalimat syahadat. Aaaak.. jadi keingetan kisah Ummu Sulaim :')

FYI, Imlek itu bukan perayaan dari sebuah agama, melainkan tradisi dari warga keturunan Chinese. Jadi kadang sodara-sodara papah yang merayakannya juga nggak melulu dari agama budha, ada juga yang kristen. Yup, keluarga kami memang sangat multiagama.

Terus, gimana keluarga saya yang muslim menghadapi imlek? Sebenarnya kami tidak ikut merayakan, hanya menjadi penjamu yang baik saja :) Jadi, kalo lagi imlek itu sodara-sodara yang merayakan biasanya dateng ke rumah, karena ada papah yang dituakan. Terus mamah dan kakak-kakak saya yang udah kerja bagi-bagi angpao deh! Kalo saya, karena belum nikah jadi masih termasuk golongan penerima angpao. Hehe. Lumayanlah :D

Pokoknya ada aturan, yang saya juga nggak tau dari mana muasalnya; orang yang belom nikah itu nggak boleh ngasih angpao. Walaupun dia udah kerja dan mapan. Jadi kalo nggak mau bagi-bagi angpao, jangan nikah! Saya sih lebih milih nikah, nanti insyaallah Allah kasih rezeki, terus bagi-bagi angpao deh ke sodara-sodara :))

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al-Nur: 32)

Jadi, kapan nikah, Na? XD

Back to the topic. Ini yang kami sebut toleransi. Keterlaluan? Mungkin bagi kalian yang lingkungannya sangat kondusif dan jauh dari non-muslim akan berfikir seperti itu. Tapi bagi saya, yang tetangga kanan-kiri adalah para penganut budhist yang merayakan imlek, bahkan saudara-saudara yang mempunyai ikatan darahpun merayakan imlek, ini sudah sangat minimal.

Tidak ada bedanya, dengan mereka juga yang selalu mengucapkan selamat ketika kami merayakan idul fitri dan idul adha. Walaupun kami saling mengetahui, itu semua hanya basa-basi. Kepercayaan dan prinsip kami bersebrangan dalam soal agama. Tapi toh itu yang membuat kami selalu hidup dalam kerukunan, dalam bersaudara maupun bertetangga.

Sincerely,
Riana Yahya.