Rabu, 20 Agustus 2014

Jodoh Itu di Tangan Allah (?)

Bicara jodoh, banyak orang bilang “Jodoh itu di tangan Allah”, ungkapan itu tidak salah, tapi.. jangan keliru menginterpretasikan ungkapan tersebut. Nanti, mentang-mentang jodohnya di tangan Allah, jadi kita hanya tinggal berpangku tangan saja menunggu jodoh kita datang tiba-tiba dari langit. Lah, nggak mungkin kan?? Kalau kita tidak berusaha mengambilnya dari tangan Allah, ya jodoh kita juga akan terus ada disana di tangan Allah :D

Terus gimana caranya ngambil jodoh kita yang masih di tangan Allah? Eiiits, tenang tenang, sabar. Sebelum ngomongin itu, kita harus punya “objek”nya dulu nih. Jodoh seperti apa sih yang paling diidam-idamkan para wanita?? Let’s check it out ;)

1.      Bagus Agamanya
Bagi seorang muslimah, inilah hal yang terpenting. Mengapa demikian? Karena pasti pria yang bagus agamanya, akan bagus pula akhlaknya.

Pernah, ada orang bertanya kepada Al-Hasan r.a. mengenai calon suami putrinya. Kemudian Al-Hasan r.a. menjawab, “Kamu harus memilih calon suami bagi putrimu yang taat beragama. Sebab, jika dia mencintai putrimu, dia akan memuliakannya. Dan jika dia kurang menyukainya, dia tidak akan menghinakannya.”

Pun Rasulullah pernah bersabda teruntuk para ayah: “Jika datang kepada kalian orang yang bagus agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu)!” (HR Imam Tirmidzi dari Abu Hatim Al-Mazni).

Maka Insya Allah jika kami memiliki jodoh yang bagus agama dan akhlaknya, hidup di dunia ini akan terasa seperti surga sebelum surga J

2.      Menerima Apa Adanya
Mungkin memang terdengar sangat klise, tapi ini juga penting menurut saya. Sekarang, disaat masih ta’aruf, dalam masa perkenalan, mungkin kami -para wanita- masih bisa menyembunyikan kejelekan-kejelekan kami didepan kalian -para lelaki-. Terlihat dan bersikap sesempurna mungkin didepan kalian. Tapi kelak, apakah kami mampu menyembunyikannya? Setiap saat? Setiap waktu? Nah, untuk itu sikap menerima apa adanya ini sangat diperlukan. Syukur-syukur ketika sudah menikah kelak kami bisa meminimalisir atau bahkan menghilangkan kejelekan-kejelekan kami itu, tapi tetap saja, nobody’s perfect, kan??

Karena kami tak sebijak bunda Khadijah. Akan ada saat-saat kami sangat menyebalkan, bertanya kegiatan apa saja yang kalian kerjakan seharian diluar sana, ketika kalian lelah baru saja pulang mencari nafkah. Kami mohon jangan marah jika hal itu terjadi, karena sebenarnya kami hanya ingin tahu segala sesuatu tentang kalian. We won’t lost anything about you. Jangan membalasnya dengan nada tinggi, walaupun kami tahu kalian pun mungkin sedang penat. Bijaklah saat menghadapi kami. Nasehatilah kami dengan suara yang meneduhkan dan berhias senyuman. Karena bagi kami kalian adalah imam kami, Insya Allah kami tidak akan membangkang perintah dan nasehat kalian selama itu berada dalam koridorNya.

Karena kami tak sesabar Fatimah. Akan ada saat-saat kami marah, menangis, mengomel, tak terkontrol. Kami hanya wanita biasa yang saat masalah melanda, maka kami akan membutuhkan seseorang untuk menumpahkan segala beban, menangis dipeluknya, berharap untuk didengar dan diperhatikan sepenuh hati.

Karena kami tak secerdas Aisyah. Akan ada saat-saat kami berbuat kesalahan-kesalahann sebab pengetahuan kami yang kurang. Maklumlah untuk itu, ajari kami apa saja yang kalian tahu, jangan bosan, jangan pernah bosan. Teruslah bimbing kami agar kelak bersama.. kita menuju surgaNya.

3.      Cinta Tulus
Banyak orang yang sudah pernah berumah tangga bilang, “Cinta itu hanya bertahan selama 6 bulan setelah menikah, setalah itu sisanya adalah toleransi”. Saya pun heran, mengapa bisa seperti itu? Kebanyakan dari mereka, menghabiskan waktu dalam masa pendekatan atau biasa disebut pacaran hingga bertahun-tahun. Selama itu mereka bisa tetap menjaga bara api cinta mereka untuk tetap hidup, tapi mengapa saat setelah disahkan dalam pernikahan, malah begitu cepat padamnya? Anybody know?

Karena saya belum menikah, jadi saya rasa saya kurang berkompeten untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi yang saya tahu, setiap wanita pasti ingin sekali mempunyai pendamping yang selalu mencintainya setulus hati, sepanjang hidupnya.

Ah, saya jadi ingat kata-kata Habibie saat sedang ditanya para pewarta, ia menjawab, “Kami tidak mempunyai banyak saat itu, tapi kami mempunyai masing-masing,” sambil menatap ke mata perempuan yang duduk disampingnya, si gula jawa ‘Ainun. Dan hingga kini, kisah cinta mereka masih abadi, mengukirkan sejarah.   

Mungkin nanti akan ada saat-saat kami akan terlihat buruk, ketika berjibaku di dapur mempersiapkan hidangan untuk kita, atau ketika berpeluh keringat saat mencuci, mennyetrika, dan membersihkan rumah kita. Pasti nanti akan ada saatnya kami akan terlihat tak seperti kami yang kalian pinang dulu. Lama kelamaan kulit kami akan mengendur, rambut kami pun akan memutih.

Nanti.. ketika saat-saat itu datang, kami mohon, janganlah pernah berpaling dari kami. Cintailah kami setulusnya, seperti yang pernah kalian lakukan dulu, ketika pertama kali kalian menjatuhkan hati pada kami. Atau bahkan lebih. Kami pun begitu. Bahkan kami ingin setiap hari kami lewati dengan selalu jatuh cinta kepada kalian. Imam kami.. pendamping hidup kami..

4.      Kemandirian Ekonomi
Kemandirian ekonomi, last but not least. Salah satu tugas mulia suami adalah mencari nafkah, Rasulullah bersabda, "Mencari rezeki yang halal adalah kewajiban sesudah kewajiban shalat".

Bagi kami, berkecukupan saja sudah cukup, tapi.. jika bergelimangan pun syukur. Bagi kami, asalkan ada untuk sandang, papan, pangan, dan pendidikan anak kelak itu sudah cukup, tapi.. kalau ada untuk naik haji dan traveling keliling dunia pun syukur ;D

Kira-kira itulah gambaran jodoh yang kami, para wanita idam-idamkan. Tidak banyak kan? Hanya empat point saja :D

Ok, sekarang kita masuk ke jawaban dari pertanyaan di awal tadi, gimana caranya ngambil jodoh kita yang masih di tangan Allah? It’s so simple, mengutip dari salah satu buku favorit saya, Agar Bidadari Cemburu Padamu, “Saat kemampuan menikah belum ditangan, biarlah cinta berekspresi menjadi keshalihan, perbaikan diri hari demi hari..”

Bagi kita, para wanita muslimah, mungkin tidak ada usaha lain selain menunggu dengan penuh kesabaran. Eiiiitss, tapi janganlah menjadi penunggu pasif, kita harus tetap aktif. Aktiflah melakukan hal-hal positif selama masa penantian ini, perbaikilah diri kita hari demi hari, percayalah pada janjiNya, “...dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)...” (QS.An Nuur:26)

Jagalah diri kita selama masa penantian yang kita tak tahu kapan akan berakhirnya ini, seperti nasehatNya, “Dan orang-orang yang belum mampu menikah, hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya.” (QS An Nuur:33). 

Asik, asik, JOSH!! :))


Sincerely, 
Riana.

Senin, 04 Agustus 2014

First Meet (Flash Fiction)

Agashi, igeo..” seorang ajumma menjulurkan setusuk sosis yang dibalut kentang goreng yang dibentuk spiral.

Gamsahabnida ajumma, hajiman...” ah, bagaimana aku harus mengucapkankannya, bahwa aku seorang muslim dan aku takut jika makanan yang diberinya itu bukan makanan yang halal. Baru dua hari menginjakkan kaki di Negara ini, aku belum banyak tahu tentang bahasanya, bahkan aku belum bisa membaca huruf Hangul.

Joesonghabnida, jeoneun muslim, geuleohge nan  geogjeongeyo..” huaaa.. ngomong apa sih nih gue?! Belajar bahasa korea cuma modal dari nonton drama begini deh jadinya, bicara informal sama orang yang baru pertama kali jumpa dan lebih tua pun, nggak sopan banget! Urgh.. mian haeyo ajumma , nan eotteohge?

Jeo anmeoggo, joesonghabnida, geurigo gamsahabnida.” Aku membungkukan badan hingga 90 derajat menyerupai posisi ruku, meminta maaf tidak dapat mengambil makanan yang telah diberikannya.

Uri aideul…

Eomma…” seorang lelaki berteriak dari kejauhan, memotong kalimat yang belum diselesaikan ajumma  ini.

Tak memakan waktu lama, dengan langkahnya yang panjang-panjang lelaki itu sudah ada di depan kami. Berbicara kepada ibunya dengan aksen Seoul yang lucu. Aku tersenyum sendiri, melihatnya seperti di potongan drama yang kulihat di laptopku. Hanya ada satu dua kata yang aku mengerti, eodi berarti dimana dan gidalyeo yang berarti menunggu. Hmmm.. sepertinya lelaki ini meminta ibunya menunggunya di suatu tempat, tapi ibunya malah keluyuran menghampiriku.

I’m sorry, Did my mother make some trouble for you?Assa..!, berakhir juga pendiritaan gue, untung anaknya bisa bahasa inggris.

No, no. She just offering that food for me, but I can’t take that because I’m a muslim. I worried that food is not halal. Please tell her about that. I can’t explain that to her before, my Korean language is so bad.”

Yes, I understand.” Lalu lelaki itu menjelaskan kepada ibunya sambil sesekali tersenyum, pun ibunya.
Selesai percakapan ibu-anak itu, ibunya kembali menjulurkan sosis itu kepadaku.

Take that. It’s halal, it’s beef sausage, don’t worry. We’re muslim too.” Lelaki itu mengartikan maksud dari tatapan ibunya kepadaku.

Jinjja?” aku terlonjak kegirangan, tapi masih separuh tak percaya. Mereka muslim pertama yang kutemui di sini. Kemarin di acara penyambutan ayahku di kantornya, dari beberapa puluh karyawannya tak ada satu pun muslim. Aku pun akhirnya menggerutu kepada ayah-ibu, mengapa harus pindah ke Korea Selatan yang muslimnya menjadi minoritas, sulit mencari masjid dan makanan halal. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah tugas dari perusahaan ayah. Korea sekarang menjadi salah satu Negara produsen barang elektronik tercanggih, hal ini tidak dapat dipungkiri.

Ne, Our family convert to Islam in 2009. I think Islam is our destiny. We feel peace, steady and blessedness in Islam.

Alhamdulillah, barakallah ya akhi..” mendengar tuturannya menerbitkan titik-titik basah di ujung mataku.

Jeogiyo…” ajumma  itu kini menjulurkan gembok, satu kepadaku dan satu untuk anaknya.

Aku dan lelaki yang belum aku tahu namanya itu, mematung sejenak. Tak lama kemudian kami tertawa bersamaan.

Aniyo, ajumma..anieyo” kami baru saja bertemu, bagaimana bisa ajumma  ini berharap terlalu banyak pada kami?

Eomma, geumanhe, hajima. Ah jinjja, nareul  waeirae?” Lelaki itu mengambil kedua gembok itu dan memasukkannya ke saku mantel. Mukanya memerah seperti kepiting rebus. Gwiyeobda! 

Kami berada di Namsan Tower saat ini. Di ketinggian 479.7 meter di atas gunung Namsan. Di menara ini ada sebuah kebiasaan dimana para pengunjung mengaitkan sepasang gembok lalu membuang kuncinya. Mereka mengibaratkan bahwa gembok itu adalah perwujudan dari cinta mereka yang telah terkunci dan tidak dapat dipisahkan lagi.

“Sorry, my mother.. hmm.. She wants have daughter in law that use hijab.  But in korea, that’s hard to find someone like… you…” 




Vocabulary
Agashi = Girl
Igeo = This
Ajumma = Auntie
Gamsahabnida = Thank you
Hajiman = But
Joesonghabnida  / Mian haeyo  = Sorry
Jeoneun / Jeo / Nan = I am
Geuleohge = So
Geogjeongeyo = Worry
Nan eotteohge? = What should I do?
Anmeoggo = Not eat
Geurigo = And / so
Uri aideul = My son
Eomma =  Mother
Assa! = Yeeess!
Jinjja? = Seriously?
Ne = Yes
Jeogiyo = Excuse me
Aniyo / anieyo = No
Geumanhe = Stop it
Hajima = Don’t do it
Nareul  waeirae? = Why you do it to me?
Gwiyeobda = So cute

Riana Yahya
Bekasi, 4-8-2014







Jumat, 25 Juli 2014

Cinta Akan Selalu Pulang..

Cinta akan selalu pulang
Di saat fajar menjelang
Atau ketika senja mulai hilang

Cinta akan selalu pulang
Mempertemukan asa yang menjulang
Hingga cita saling berpandang

Cinta akan selalu pulang
Meski harus menempuh jalan yang panjang
Pada waktunya, ia pasti  akan datang


Jakarta, 7-7-2014


Minggu, 13 Juli 2014

Kisah untuk Anak-Anak Palestina

Menjelang keberangkatan pasukan ke Mu’tah, Rasulullah bersabda kepada sang panglima dan pasukannya, “Jika Zaid syahid, maka Ja’far ibn Abu Thalib yang akan memimpin pasukan. Jika Ja’far gugur, maka ‘Abdullah ibn Rawahah yang akan memegang bendera.”

3.000 pasukan itu berangkat diiringi syair-syair semangat, menemui 200.000 prajurit bersenjata lengkap  yang dipimpin langsung oleh Heraclius, sang kaisar Romawi. Satu banding tujuh puluh?! Ya, bukan angka yang seimbang, jauh.

“Saudara-saudaraku”, kata ‘Abdullah kemudian. “Sesungguhnya apa yang tidak kalian sukai ini justru merupakan tujuan dan cita-cita keberangkatan kita. Tidakkah kalian merindukan mati syahid? Kita memerangi musuh bukan mengandalkan senjata, kekuatan, ataupun banyaknya jumlah bilangan. Kita memerangi mereka hanyasanya mengandalkan agama ini, yang Allah telah muliakan kita karenanya. Maka dari itu, majulah dengan barakah Allah! Kita pasti memperoleh satu diantara dua kebaikan; menang atau mati syahid!”

Lalu semua orang menyorakkan takbir..

Zaid ibn Haritsah merengsek ke tengah musuh membawa bendera Rasulullah hingga puluhan tombak menyapa tubuhnya, memintanya untuk berhenti. Dan ruhnya disambut ranjang surga. Ja’far meraih bendera itu, memegangnya dengan tangan kanan hingga lengannya lepas, mendahuluinya ke surga menjadi sayap berwarna hijau yang kelak dipakainya terbang ke mana pun ia suka. Lalu dipegangnya dengan tangan kiri, dan tangan itu pun putus. Lalu didekapnya bendera itu di dadanya hingga seorang prajurit Romawi membelah tubuhnya. Maka Ja’far segera terbang di surga.

“Jika kau ikuti kedua pahlawan itu”, gumam sang panglima ketiga, “Kau akan mendapat petunjuk”. Tapi bersitan keraguan meraja di hatinya. Akankah pertempuran ini diteruskan sementara korban yang jatuh dari kaum muslimin telah demikian banyak? Tidakkah ini tersia? Tapi tidak. Dia juga sudah dekat dengan cita-citanya. Kamudian syairnya diteriakkan lantang.

Kenapa kulihat engkau tak menyukai surga
Bukankah telah sekian lama kau tunggu ia dalam cita?
Bukankah kau ini tak lebih dari setetes nutfah yang ditumpah?

Maka dilemparnya sekerat tulang yang tadi dia gigit untuk menegakkan punggungnya. Dia menjemput cita tingginya. ‘Abdullah ibn Rawahah sang penyair yang dicintai Allah dan RasulNya itu syahid. Tsabit ibn Aqram Al Ajlani segera meraih bendera dari pelukan ‘Abdullah dan ia berlari ke arah seseorang yang sibuk membabat musuh dari punggung kudanya. “Ambil ini Abu Sulaiman!!!”, dia berteriak.
“Tidak!” kata yang dipanggil. “Jangan aku. Engkau ikut Perang Badar, Engkau lebih layak!”
“Demi Allah, ambil ini Abu Sulaiman!! Tidaklah aku mengambilnya melainkan untuk kuberikan padamu!!”
Dan orang yang dipanggil Abu Sulaiman itu pun mengambilnya. Di saat itulah, di waktu yang bersamaan, dari atas mimbar Masjid Nabawi di Madinah, sang Nabi berlinang air mata mengisahkan kegagahan ketiga panglima yang diutusnya. Setelah air matanya sedikit terseka, beliau bersabda, “Lalu bendera itu diambil oleh salah satu pedang diantara pedang-pedang Allah. Dan Allah memberikan kemenangan melaluinya.”
Pedang Allah itu akrab dipanggil Abu Sulaiman. Nama aslinya; Khalid ibn Al Walid.

-Dikutip dari buku Jalan Cinta Para Pejuang karya Salim A. Fillah-



***

Meskipun jumlah pasukan kita saat ini jauh lebih sedikit dari tentara zionis Israel, meskipun persenjataan kita jauh lebih minim dari para biadab itu, tapi jangan berkecil hati, sayang. Tidakkah kalian simak kata panglima ‘Abdullah ibn Rawahah sebelum ia turun perang? Bahwa kita memerangi musuh bukan dengan mengandalkan senjata, kekuatan, ataupun banyaknya jumlah bilangan. Tapi kita memerangi mereka hanya dengan mengandalkan agama ini, Islam. Satu-satunya alasan kita untuk turun perang adalah untuk membela agama ini, Islam. Maka dari itu, kelak, jadilah seperti Zaid, Ja’far ibn Abu Thalib atau ‘Abdullah ibn Rawahah, yang tak pernah gentar berapapun banyaknya musuh yang menghadang, yang cita tertingginya adalah syahid di jalan Allah. Kelak, majulah dengan keyakinan penuh di hatimu, karena kalian pasti memperoleh satu diantara dua kebaikan; menang atau mati syahid!

Ba’da subuh, ketika hujan membasahi bumi Allah dengan rahmatNya.
15 Ramadhan 1435 H.

Riana.

Senin, 30 Juni 2014

TENTANG CINTA, PADA TIADA

Kesaksian luka itu
sudah lama kita kemas
dalam senyap hati
juga pada mendung langit
yang kian ranum menurunkan gerimis
kita menyimpan rasa itu rapat‐rapat
sembari menatap nanar
senja turun perlahan di ufuk
menghayati setiap jejak merah saga yang ditinggalkannya
bagai menyaksikan semua impian kita
yang luruh perlahan oleh derap waktu
serta tetes rindu yang menghias disisinya
seumpama ornamen lusuh, meleleh dalam diam



“Kita tengah bercakap tentang cinta, pada tiada,” katamu lesu
dan desir angin membawa tinggi ucapmu
bersama pekik camar yang terbang limbung
ke selarik pelangi di batas cakrawala

Aku termangu dan memandang bening matamu
dimana ada lelah dan kegetiran disana
dimana genangan kenangan kita
larut pada sajak yang kupahat
dalam pilu tak terungkapkan

Jkt, 030409


AMRIL TAUFIQ GOBEL dalam kumpulan puisi Menyesap Kesunyian

Sabtu, 17 Mei 2014

Dandelion

1 Pesan Baru
17-05-2014  05:49
Tiba-tiba dia menghubungiku lagi, neng. Apa kabar? katanya. Aku baik, jauh lebih baik semenjak kamu pergi, kataku. Syukurlah, katanya. Tapi aku tidak, katanya lagi. Aku diam. Dia diam. Tetiba aku tak sebak barusan. #debumasalalu :,(
***

Saya menggerutu kesal setelah membaca pesan itu. Sedari subuh saya menahan sesak yang terus merangsak ke luar. Pada akhirnya kini tak tertahan lagi. Bantal basah. Guling basah. Dan masih dengan penglihatan yang mengembun jari-jemari menuliskan sebuah kisah.

Di saat yang sama. Tengah malam tadi dia mengirim pesan, setelah sekian lama. Isinya hanya sebuah pesan dakwah. Tapi yang dikirimi menangkapnya dengan berbagai arti. Ah, saya nyatanya saya masih terus menghubung-hubungkan, hingga tak jelas mana yang benar-benar terjadi dan mana yang hanya rekaan imaji :’(
Pesan Terkirim
***

Belum ada balasan juga. Mungkin handphone sedang tak digenggaman. Mungkin sibuk. Mungkin tak ada yang perlu dibalas. Mungkin sudah tak ada kisah yang perlu dikisahkan lagi. Tapi saya masih punya. Bukan kisah, hanya tentang kita.

Tidakkah kita terlalu rapuh? Kita, berdiri tegak saat tak ada gangguan angin. Tapi, langsung jatuh ambruk seketika saat angin–yang meski hanya sepoi– menyapa kita.
Pesan Terkirim
***

Kita bak daun dandelion, yang terlepas dari tangkai begitu angin menyentuhnya. Kita tak dapat hentikan angin itu kan? Yang dapat kita lakukan hanya berusaha menjadi kuat.



“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari kesusahan dan kesedihan. Aku berlindung pada-Mu dari kelemahan dan kemalasan…”



Selasa, 08 April 2014

#Para Kakak-kakak Shalih

Saya mengenal #Para Kakak-kakak Shalih ini di sebuah forum kepenulisan, saat itu saya masih kelas 2 SMA. Saat pertemuan pertama, saya pikir saya salah tempat, ini forum kepenulisan atau forum pengajian? Hampir semua wanita berjilbab lebar dengan pakaian longgar dan kaus kaki.
Waktu terus bergulir, semakin mengenal #Para Kakak-kakak Shalih ini, saya semakin mengagumi mereka. Setiap orang memiliki karakter masing-masing, namun saya melihat sebuah kesamaan yang melekat pada mereka; menjaga diri. Ya, mereka sangat terjaga; tampilannya, tutur katanya, prilakunya, interaksinya dengan lawan jenis, pun keimanannya.
Saya penasaran, apa rahasia #Para Kakak-kakak Shalih ini? Saya pun bertanya pada salah seorang yang paling pemalu dari mereka, “Teteh ngaji di mana?” Saya beranggapan bahwa pastilah yang membentuk pribadi mereka seperti itu adalah ilmu yang mereka miliki. Dan saya ingin tahu dimana tempat mereka menuntut ilmu tersebut.
“Tiap ahad kita ada pertemuan rutin, bungsu. Biasa kita sebut liqo’, lima sampai sepuluh orang berkumpul dan dibimbing sama ummi,” anggapan saya sepertinya tidak salah, saya pun bertanya lagi, “Tempatnya di mana teh?”
“Pindah-pindah, ahad ini kebetulan di kostan teteh. Iku yuk! Nanti teteh bilang ummi kalo bungsu mau gabung,” aha! Ini yang saya tunggu-tunggu. Saya pun langsung mengiyakan tanpa banyak pikir lagi.
Saya masih ingat pertemuan dengan murabbiah yang biasa Kakak-kakak Shalih panggil ummi. Beliau ibu tiga anak asal medan, baru tiga tahun ini tinggal di Karawang karena suami ada tugas dinas di sini. Dulu, beliau mengambil kuliah di dua universitas sekaligus, psikologi UGM dan sastra arab di salah satu universitas swasta di Yogja.
Waktu terus berlalu, semakin dekat #Para Kakak-kakak Shalih ini, saya semakin bersyukur bahwa saya bisa menjadi bagian dari ‘sistem’ ini. Saya kemudian banyak mengenal #Para Kakak-kakak Shalih lain. Dan takdir selalu mempertemukan kami lagi, di setiap tersedia ladang pahala; saat penggalangan dana untuk Palestina, saat kajian-kajian Islam, saat membantu korban banjir, saat mabit, saat demonstrasi menentang pembunuhan masal saudara muslim di bagian negeri lain, dan banyak lagi. #Para Kakak-kakak Shalih ini ada di barisan paling depan.
Kemudian saya berpikir, jika ‘sistem’ ini berlaku di seluruh pelosok Indonesia, jika #Para Kakak-kakak Shalih ini menjadi pemimpin-pemimpin Indonesia, saya optimis bahwa peradaban kita akan berubah!
Karena bagi #Para Kakak-kakak Shalih ini politik hanya menjadi ‘alat’ untuk mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin, bukan sebagai tujuan akhir. Karena bagi #Para Kakak-kakak Shalih ini amanah adalah ladang amal yang mereka harap dapat menjadi pemberat pahala di yaumul akhir nanti jika dapat dilaksanakan dengan baik. Dan sebaliknya, amanah juga dapat menjadi ladang dosa yang mereka takutkan menjadi penjerumus menuju dahsyatnya panas api neraka jika tidak dapat mereka laksanakan.

Untuk itu, bismillah, tanggal 9 April 2014 nanti #SayaPilihPKS yang selalu melayani dengan CINTA, KERJA, HARMONI :)


Selasa, 11 Februari 2014

Dosen Kece B-)

Saya bertatapan tak percaya dengan teman disamping saya, Rina. Tanpa kata kita sudah paham betul maksud satu sama lain. “Mirip doang, mirip!” mulut saya melafalkannya tanpa mengeluarkan suara. Beberapa menit saya masih bertahan dengan kepercayaan diri saya, bahwa itu tidak mungkin orang yang kami –dan banyak orang– kenal. Tidak mungkin beliau yang ada di depan mata saya sekarang.
Sampai… beliau memperkenalkan namanya; Ridwansyah Yusuf Achmad. Dan… kami yang duduk tepat di depan beliau –meski sekuat apapun berusaha­ tetap– tak mampu menahan ekspresi, yang entah bagaimana itu terlihat, campuran dari berbagai rasa: masih nggak percaya, okay ini nggak mungkin terjadi, mimpi nggak sih? Gila! Ini beneran Kang Yusuf yang ada di depan gue? Gimana bisa? Harus gimana nih? Okay biasa aja! Mana bisaaa?!

Otak saya mulai menyatukan keping-keping puzzle clue mengenai dosen baru yang beberapa waktu lalu saya dapatkan:
  • ·         Nama dosen yang tertulis di absen; Ridwansyah. Manalah saya ngonnect ke Kang Yusuf. Padahal ini nama depannya. Jadi inget mas Abdullah di KCB, Anna Althafunnisa juga nggak ngonnect kalo beliau adalah Abdullah Khoirul Azzam #eeaaa xD
  • ·         Dosennya masih muda. Hellooo~ Di Indonesia banyak dosen muda.
  • ·          Beliau mantan presiden KM ITB. Ini padahal udah menjurus banget, tapi kan semenjak didirikannya, udah berapa orang mantan presiden KM ITB? Banyak.

Butuh waktu lama bagi saya untuk menguasai diri. Masih sibuk berantem sama pikiran sendiri kalo ini emang kenyataan. Padahal bukan waktunya lagi untuk itu, sekarang saya harus nyimak perkuliahan beliau: Aspek Sosial dan Pengembangan Komunitas. Tapi, aaaak… seringnya saya masih gagal fokus -___-

Ini terlalu mengejutkan. Benar-benar mengejutkan. Coba sebelumnya saya tahu bahwa beliau yang akan jadi dosen saya di mata kuliah ini, mungkin nggak akan secengo ini jatohnya. Mungkin saya akan terlihat  lebih excited dari temen-temen lainnya yang belum pernah kenal beliau. Tapi nggak akan sememalukan ini jatohnya. Bener deh! Ekspresi saya terlalu terbaca jelas. Saya tahu itu. How fool I am >,<

Tapi rasanya bener-bener kayak mimpi. Baru tadi pas mau beli makan siang, saya sama Rina ngomongin beliau yang minggu lalu jadi moderator acara diskusi para walikota muda; Bandung, Bogor dan Depok. Ngomongin beliau yang baru beberapa bulan ini ada di Indonesia ba’da menyelesaikan studi S2nya di Belanda. Dan tiba-tiba ‘seleb’ yang baru kita omongin tadi sekarang lagi duduk di depan kita, jaraknya nggak lebih dari 2 meter, selama 2 sks! Etapi masih kurang sih, kenapa nggak 4 sks aja gitu, hehe. Dikasih hati minta jantung.

Beberapa teman aktivis yang mengenal beliau juga cukup ‘histeris’ begitu mendapat kabar dari saya bahwa Kang Yusuf ngajar anak PWK di ITSB. Lalu saya komentar, “Jiaah, ente yang cuma denger kabarnya aja histeris gini, apalagi ane yang tiba-tiba tuh orang ada di depan mata!”

Bagi pengagum-pengagum sosok Kang Yusuf ini, bertemu apalagi bisa berbincang dan bertukar pikiran dengan beliau mungkin adalah sebuah anugerah dan kesempatan emas. Dan saya, sangat bersyukur bahwa satu semester ke depan saya mendapatkan itu. Dengan berbagai prestasi menawannya: Lulus S1 Planologi ITB dengan IPK bagus, Lulus S2 di Universitas Erasmus Belanda, Mantan Presiden KM ITB, Mantan Ketua GAMMAIS ITB, Mantan Sekjend PPI Belanda, penulis buku, menjadi pembicara di berbagai seminar, menikah muda dan bulan madu di Turki… *eh, out of the track* saya merasa sangat beruntung sekali bisa menjadi mahasiswa beliau. Alhamdulillah~

“Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang ingin kau dustakan?”

Sincerely,
Riana 
Senin, 10-02-2014

Even now, I still can’t believe this happen to me :))