Senin, 06 Februari 2017

Review Buku Pejalan Anarki: Pejalan Bergerak!

Pejalan Anarki. Harus diakui bahwa novel ini sudah mencuri tempat pertama di deretan novel favorit saya. Dan harus diakui pula bahwa saya sudah jatuh sejatuh jatuhnya dengan si tokoh El di novel ini. Dengan idealisme dan prinsipnya. Dengan pikir, kata, dan geraknya.



Pejalan Anarki bercerita tentang El, mahasiswa idealis yang senang melawan ketidakadilan di kampusnya dan dimanapun ia berada, ketua UKM teater yang juga pecinta alam, kopi, dan buku. Hingga sebuah kejadian melibatkannya dengan Sekar Indurasmi, cinta terpendamnya, mahasiswi populer dambaan lelaki di kampus; cantik, pintar, dan ketua HMJ.

Pembaca akan diajak bertualang mengikuti perjalanan kisah cinta mereka. Dari awal bermusuhan, kebersamaan, hingga pelarian mereka. Terjal-terjal yang mereka harus lalui untuk tetap menggenggam. Jurang-jurang yang memaksa mereka menghentikan perjalanan berdua.

Jazuli Imam sang penulis, berhasil sekali menghidupkan dua tokoh utama, El dan Sekar, dalam novel ini. Mau tidak mau, kita akan diajak masuk menjadi sang tokoh, hingga ikut tersenyum-senyum dengan candaan dan keromantisan yang tidak norak dari pasangan ini.

“Nona jangan nangis, plis” kata El lagi.
“Nggak nagis kok” Sekar berusaha memperbaiki nada bicaranya. “masa pacarnya jagoan nangis.”
“Nah, itu Nona tai” kata El.
“Aaah, El. tau!” Sekar tertawa.
“Maaf typo.”
“Semau kamu aja, kamu panitianya.” kata Sekar manja.
“Siapa?” tanya El
“Kamu.” jawab Sekar
“Yang nanya” El bercanda
“Aaah, El. Kangen banget!”
-Pejalan Anarki halaman 245-

Aaaak. Nanti mau juga dipanggil nona sama suami, huhuhu. Eh tapi nanti udah jadi nyonya dong yaaa -__-”  Eh, kok malah curhat. Hihihihi.

Di novel ini juga ada banyak bonus puisi El yang bikin melting. Favorit saya yang satu ini..

Kau sebuah piknik, konklusi diskusi kawan terbaik.
Kau warga setempat, memastikan jarak aku sudah dekat.
Kau sepetak lahan di ranu kumbolo akhir pekan.
Kau api menyala, selepas hujan di muka tenda.
Kau titik cahaya, kala kusesat di hutan gelap.
Kau bunyi peluit, kala ku hilang dari barisan.
Kau adalah engkau, kala diriku menjadi aku.
Kau adalah engkau, kala diriku adalah aku.
-Pejalan Anarki halaman 219-

Tapi meski begitu, ini bukan novel cinta biasa yang melulu membahas hanya soal cinta. Di dalamnya kita diajak lagi mengeja makna hidup; tentang kemanusiaan, kecintaan kepada  alam dan bumi pertiwi, persahabatan, bahkan ke-Tuhan-an. 

“semakin sering naik turun gunung ia seorang pendaki, seharusnya berbanding lurus dengan meningkatnya kedekatan ia kepada Tuhannya. Tujuan seorang mendaki gunung memang bermacam-macam, tapi hakikat manusia adalah sama. Di alam, tempat dimana tidak ada kekuatan harta, tahta, dan tentara, Tuhan adalah ingatan pertama bagi manusia yang banyak dibuat lupa oleh kota.” Kata El.
-Pejalan Anarki halaman 376-


Novel ini juga sarat dengan kritik pedas tentang sistem ataupun kebiasaan yang sudah mendarah daging di masyarakat kita. Tentang pendidikan, ekonomi, dan alam Indonesia, El menampar kita telak dengan caranya bergerak, tidak menunggu dan berharap pada sesiapa.

Kalau negara ga bisa ngasih buku anak-anak pelosok, ayo kita yang kasih.
Kalau  negara ga bisa merawat alam dan lingkungan, ayo kita yang rawat.
Kalau negara ga bisa memelihara pedagang kecil, ayo kita yang pelihara.
Kalau negara ga bisa ngelindungi hak minoritas, ayo kita yang lindungi.
Ayo rame-rame lakukan yang tidak dilakukan negara.
Ayo rame-rame ‘gantikan’ peran negara.
Jangan berharap pada negara.
 -Pejalan Anarki halaman 60-

El bergerak, memberikan pendidikan di pelosok Bantul dan Krakas. El bergerak, mengangkuti sampah dari gunung, melepas binatang yang terpenjara dalam sangkar. El bergerak, mendampingi pedagang-pedagang kecil dengan edukasi. El bergerak, bersama segelintir mahasiswa menyuarakan ketidakadilan di negeri ini.

Bagi kamu yang belum pernah mucuk (naik gunung) seperti saya, novel ini akan meracuni kamu untuk memasukan dua gunung di Indonesia, Merbabu dan Rinjani, menjadi destinasi yang wajib dikunjungi sebelum kamu berpindah alam. Di sini, detail track dan pemandangan dua gunung itu disajikan secara apik sekali. Tidak hanya itu, novel ini banyak juga berisi tips-tips tantang pendakian. Misalnya cara packing, pakaian saat mendaki, dan perbekalan untuk mendaki.

Aaaah... pokoknya buku ini ketjeh badai. Bahasa dan alurnya ringan, tapi berisi banget. Saya selalu koar-koar ke temen-temen especially yang hobi mucuk, buat baca buku seru ini. Hahahaha. Buat yang mau beli, buku ini nggak akan kalian temui di toko-toko buku biasa, karena ini buku indie terbitan Djeladjah Pustaka (Yogyakarta). Buku ini hanya bisa kalian dapatkan dengan order langsung ke Djeladjah, via whatsapp ke 0857-4746-4463.


Salam lestari!   
Riana Yahya

#PejalanAnarki
#PejalanBergerak



2 komentar:

  1. emang buku ini edan banget kakak... :D

    Ayo kita ke rinjani, merbabu mah udah :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. RACUN yee nih buku. Anterin kakak ke merbabu dulu dong, dek. Via Selo. Kali aja abis dari situ udah ada eskalator ke Rinjani :'))

      Hapus