Senin, 23 Januari 2017

Catatan Perjalanan; Uncovered Purwakarta

Haaaaiiii... kali ini saya akan cerita tentang perjalanan kami meng-eksplor tempat-tempat yang masih belum mainstream di Purwarta. Bisa dibilang ini trip dadakan. Karena dini hari pas hari H, panitia trip ini masih di Cilegon-Benten, dan baru sampe Karawang jam 7an. Padahal sebelumnya bilang mau kuy dari Karawang jam 8   -___-

Setelah berngaret-ngaret ria, kami --saya, Wulan, Ita, dan Kang Maman (kami biasa manggil dia Mamih karena satu dan lain hal, hahaha)-- baru start dari Karawang jam 10 lewat. Tujuan pertama perjalanan kali ini adalah silaturrahim ke rumah Kang Dani, salah satu anak Pintu Nusatara yang adalah temen dari Kang Maman, tapi otomatis jadi temen kita karena kita juga temennya Kang Maman :D

Sekitar jam 12 kita sampe rumah Kang Dani. Setelah shalat dzuhur dan istirahat, Kang Dani yang kata Mamih nggak bisa diem itu, ngajak (atau diajak?) kita ke Curug Keramat. Pernah denger curug ini? Kalo saya sih baru pertama denger nama curug ini di Purwakarta. Katanya sih emang belum bayak yang tau keberadaan curug ini.

FYI, jalan ke curug ini tuh lumayan horor karena banyak tanjakan dan banyak juga jalan yang rusak. Jangan bayangkan bisa masuk mobil, ketemu motor lawan arah aja, salah satunya harus berhenti. Saran saya, bagi yang mau ke curug ini, harus dengan kondisi kendaraan yang vit. Kami pakai 3 motor ke sana, Kang Dani yang pake motor sport trail landjar djaya sampe duluan. Sisanya, kami berempat yang pake motor matic dan motor batang gede, cukup keripuhan dengan medan jalan ini. Sempet juga saya dan Ita harus turun dulu dari motor, karena motornya nggak kuat nanjak :’)

Akhirnya setelah ber-roller coaster, kami tiba di kaki curug sekitar jam setengah 3. Tidak ada simaksi untuk masuk ke curug ini, semuanya gratis tis tis. Belum ada tiket masuk ataupun parkir. Kan saya bilang di awal, kali ini kami akan explore tempat-tempat anti mainstream, Uncovered Purwakarta. Paling hanya perlu izin ke warga sekitar. Tidak ada kewajiban sih. Tapi dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Biasakan selalu jaga sopan santun yaa guys! Sapa juga warga sekitar yang kalian temui. Mereka semua ramah dan senang ketika kita sapa. Oh iya, kebanyakan rumah warga di sini adalah rumah panggung. Makin menambah suasana pedesaan yang asri, apalagi ditambah cuacanya yang sejuk.

Setelah menitipkan motor di halaman rumah warga, kami memulai tracking jalan kaki menuju curug. “Track ke curugnya datar, kok!” kata tour guide kita kali ini, Kang Dani. Oke, aman, pikir saya yang belum temenan sama track tanjakan. Seketemunya dengan tanjakan, langsung deh saya teriak, “Datar yaaa tracknyaaaa!” memastikan kang Dani yang mimpin rombongan di depan bisa denger. Yang dituju cuma cengengesan, hehehehe.

Tapi mayoritas tracknya emang tanah yang relatif datar, meski akan nemu beberapa tanjakan juga. Kita akan disuguhkan bermacam view sebelum sampai ke curug Keramat; semak terbuka, hutan bambu dan berbagainya, sawah dengan latar pegunungan kayak yang kita gambar pas di SD, sampai sungai dimana air curug mengalir.

Sekitar 30 menit-an tracking, sampailah kami di tujuan. Ternyata selain kami ada juga satu rombongan yang sudah sampai terlebih dulu di sana. Dan beberapa anak-anak warga sekitar yang sedang mencari udang di balik batu.  

Curug Keramat ini memang tidak terlalu besar debit airnya. Dalamnya pun hanya sekitar 10 cm. Tapi kalian bisa tetep main air langsung dari air terjunnya yang dingin dan segar. Kata Kang Dani sih, di atas ada lagi dua curug yang debit airnya lebih besar. Tapi lumayan, harus tracking lagi sekitar 1-2 jam, dan tracknya curam edan plus belum ada segala macam bala bantuan, seperti webing. Kalau mau ya harus bongkar pasang webing sendiri. Yaaa.. namanya juga uncovered :P




Kami memutuskan untuk stay aja di curug pertama ini. Kang Deni langsung buka day packnya yang apa aja ada. Keluarlah kompor, nesting, gelas, dan segala perlengkapan ngopi. Yeeeey, ngopi kitaaaa! Sementara Kang Dani sibuk menyiapkan kopi, ciwi-ciwi sibuk berfoto ria, dan Kang Maman sibuk fotoin kita, hahaha.






Puas main-main air dan kedinginan, perut mulai konser. Sudah lewat jam makan siang dan perut saya hanya diisi sekotak kopi instan tadi pagi. Laper beraaaaat! Kami langsung buka bekal yang sudah kami siapkan dari rumah; saya bawa goreng teri dan sayur buncis, mbaul bawa tempe ulek, dan de ita bawa (beli sih lebih tepatnya) ikan tongkol, acar, dan sambel. Gelar kertas nasi dan campurkan semua menu jadi satu. Serbuuuuu...!!!



Selesai makan kita langsung turun dari curug. Selain tubuh yang udah kedinginan minta diganti baju cepet-cepet, kita juga ngejar shalat ashar dibawah, dan rencananya kita akan langsung cus ke destinasi kedua; Bukit Cupu. Sekitar jam 4 kami turun dari curug. Tidak seperti saat pergi tadi, perjalanan pulang dari curug terasa lebih ringan dan cepat, meski dengan baju kami yang basah.

Kami berhenti dulu di masjid yang berdekatan dengan Villa milik Pak Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta, sekaligus berdekatan dengan rumah teman Kang Dani dan Kang Maman. Setelah saya salin baju (yang lain memutuskan untuk tidak salin karena tidak terlalu basah) dan shalat di masjid, juga istirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Cupu.

“Deket kok dari sini!” kata tour guide kita itu tuh. Padahaaaaal... sejam kemudian kita baru sampe di Bukit Cupu. Hahahaha. Type-type tour guide profesional banget emang Kang Dani ini. Kalo lagi di track nanjak, bilang sebentar lagi juga tracknya datar. Kalo ditanya pucuk, bilang sebentar lagi sampe. Tapi nggak datar-datar, tapi nggak nyampe-nyempe :P

Tapi asli, selama di perjalan menuju Bukit Cupu itu, bayak view keren di sana-sini. Jadi lumayan nggak berasa. Dinikmatin aja prosesnya. Termasuk pas kena macet gegara peralihan jalan tol, jadi mobil dan bus gede semuanya lewat jalur situ.
Sekitar jam 6 petang kami sampai di kaki bukit. Sama seperti curug Keramat tadi, tidak ada simaksi untuk mendaki Bukit Cupu ini. Hanya, kami memutuskan untuk memarkir motor kami di batas maksimal motor bisa nanjak, dan tidak ada rumah penduduk apalagi lahan parkir di situ. Kalian harus tawakal menitipkan motor kalian di situ, tentu setelah usaha dengan mengunci stang motor atau pakai kunci ganda. Kalau takut hilang, sebenarnya ada rumah penduduk di bawah, tapi konsekuensinya kalian harus jalan lumayan lagi untuk menuju Bukit Cupu.

Tidak begitu lama jalan di lahan terbuka, kemudian pendakian di mulai. Wuiiih.. tracknya cukup curam, di beberapa titik bisa sampai 70 derajat, tanpa ada webing, pun pepohonan yang bisa kita jadikan pegangan. Eh, sebenarnya banyak pepohonan di sekitar, malah kita kayak ada di terowongan yang terbentuk dari pepohonan gitu. Tapiiii... tidak ada batang kuat yang bisa dijadikan pegangan di pinggir-pinggir track kita. Eh, sebenernya juga ada sih batang pepohonan, tapi kalian harus hati-hati karena banyak batang yang berduri di terowongan itu. Tidak direkomendasikan berpegangan ke batang-batang pohon disamping atau atas terowongan itu, sih. Mending ke temen seperjalanan kalian aja.

Track Bukit ini dominan tanah dan batu-batu besar. Hampir berasa kayak climbing sih jatohnya (kayak yang pernah aja, hahaha), kita perlu nyari pijakan dan pegangan di bebatuan atau akar. Banyak juga batu-batu kecil yang kalau kita injak akan jatuh “maruluk” ke bawah. So, hati-hati ya. Harus tetep waspada. Takutnya bebatuan itu kena teman di belakang kalian, atau malah kalian yang kena dari teman di depan. 

Sekitar 15 menitan, kami sampai di dataran terbuka yang lumayan luas. Sebernernya dari sini juga udah terlihat city view purwakarta, tapi nggak 360 derajat kayak di pucuk lah. Sayang, cuaca tidak mengizinkan kami untuk melanjutkan perjalanan.

“Sampe sini aja deh, kita” (ini bukan adegan mutusin pacar loh yaa)
“Awannya ke arah sini, bentar lagi juga ujan. Apa mau lanjut? Pada bawa jas ujan, kan? flysheet tadi mana?” lanjut Kang Dani
“Di motor semua, Kang” jawab kita, dengan mutados.
“Siap ujan-ujanan?” tanya Kang Dani
“Siaaaap!” Kang Maman doang yang jawab sendiri, hahaha.

Tadinya kita mau melanjutkan perjalanan sehabis adzan maghrib, tapi cuacanya makin ekstrim, banyak kilat meski belum turun hujan. Maka dengan pertimbangkan keselamatan kami, akhirnya kami memutuskan untuk turun. Gagal lagi mucuk untuk kedua kaliya setelah Parang, gegara alasan yang kurang lebih sama. Huhuhu. Tapi yang terpenting bukan puncaknya sih, tapi prosesnya. Sekali lagi, silahkan dinikmati :)

Kami turun hanya berbekal dua lampu flash dari hp, karena benar-benar tidak ada plan sebelumnya mau nanjak, apalagi sampe gelap. Baru beberapa menit jalan, hujan sudah mengguyur, langsung deras, dan anginnya lumayan kenceng. Track yang tadi lumayan susah untuk ditanjak, makin susah lagi diturunin pas cuaca kayak gini. Edaaaaaan...

Buat Kang Maman yang belum lama ini udah naklukin badai Rinjani sih ini bukan apa-apa. Pun buat Kang Dani yang kemampuan survivalnya sudah tak diragukan lagi. Wulan juga udah beberapa kali naik, merbabu dan gede, yang pasti ada tracking malemnya. Nah saya? Ini baru pertama kalinya ada di perjalan, gelap, dan badai, duh Gustiiii. Asik bener!

Tapi justru momen di sini yang paling berbekas seperjalanan ini. “Ini baru namanya sekolah alam! Belajar ngejagain temen, ngebantu temen,” kata Kang Dani. “Ih, asik yaaa!” kata Kang Maman. Ah kaliaaan, bahkan seburuk-buruk keadaan pun masih selalu ada celah untuk menikmati dan mensyukuri. Good vibes dari kalian benar dapat memudarkan khawatir dan takut kami.

Beberapa kali saya bilang dalam tulisan saya, bagi saya, salah satu yang terpenting dalam perjalanan itu adalah sesiapa yang membersamai saya. Karena dalam perjalanan, hampir selalu hadir hal-hal yang tak terduga.

Amannya, bersamai perjalanan kalian dengan orang-orang yang bisa menjaga kalian, mengerti alam dan cukup berpengalaman, asik dan nggak baperan, eh kok ke sini ya, nanti ujung-ujungnya jadi type suami idaman lagi, hahaha. Sudah, sudah.

Balik lagi ke drama turunnya kita. Kang Maman mimpin jalan turun di depan berbekal flash hp, di susul saya, de ita, mbaul, dan Kang Dani yang jaga di paling belakang. Di track-track yang curam banget, ciwi-ciwi milih untuk jalan jongkok bahkan seserodotan. Gak usah takut kotor, nak! Udah terlanjur.

Waktu turun kita sepertiya jadi berkali lipat dari waktu naik. Udah nggak sadar waktu sih, yang jelas udah gelap. Hujan masih awet, sampe kita sampe tempat naro motor tadi, bahkan sampe kita sampe rumah Kang Dani lagi!

Sampai rumah Kang Dani kita langsung bersih-bersih. Pinjem salin sana-sini, hahaha. Saya Cuma bawa salin satu baju dan udah dipake pas tadi ganti di masjid. Sementara mbaul baju salinnya kebasahan. Cuma de Ita yang aman karena bajunya di plastikin.

Dan kalian tau kami salin pake apa? Jas ujan! Eh saya mah nggak, deng. Untungnya Kang Maman bawa baju panjang dan Kang Dani punya celana training panjang juga. Sementara temen saya yang satu lagi itu tuh, kalian tau kan siapa, iya dia, dapet baju salinnya cuma baju dan celana pendek, dan akhirnya harus di double pake jas ujan. Masak pake jas ujan, makan pake jas ujan, sampe nyuci piring pake jas ujan. Udah kayak ada di planet lain aja deh pokoknya kita, hahahaha.

Setelah perut kenyang, kita pamit ke Kang Dani. Walaupun nggak rela ngelepasin kita, kita harus pulang, Kang. Nanti bisa-bisa dikeluarin dari Kartu Keluarga kalo nggak pulang. Meskipun kita juga berat untuk melangkah pulang. Racun banget sih merekaaaa!

“Yuk ke lembu. Tenda ada, flysheet, hammock, kompor. Pulangnya besok pagi aja. Kita ngeliwet di atas.”
“Iya, kita nanjak malem. City viewnya keren kalo malem. Terus liat matahari terbit paginya.”

Tapi akhirnya jam 10 lewat kita benar-benar angkat kaki dari rumah Kang Dani. Dengan berbagai perjanjian sebelumnya, hahaha.
“Pokoknya kalian punya utang ngecamp ya”
“Kalian masih punya utang ke puncak Cupu ya”
Aaaaak... dengan senang hati! Mari agendakan! :D

Hujan masih gerimis, kadang lebat lagi. Alhamdulillah perjalanan pulang lancar, dengan kecepatan tidak lebih dari 40 km/jam ciwi-ciwi bisa sampe rumah jam setengah 12an. Sementara kakak panitia, peje, cepe, yang tadinya bilang mau tidur di basecamp atau kostan, malah pulang ke Subang dan baru ngabarin sampe rumah jam setengah 2an. Ga ada matinya emang nih orang! Hahaha. Apapun, terima kasih!

*PS: Maaf kami tidak berhasil mendokumentasikan view Bukit Cupu. Tadinya mau foto-foto di puncak, eh nggak sampe puncak, nggak kesampean deh fotonya. Hutang yaaa.. Nanti nyusul kalo kita udah mucuk B-)


Seincerely,
Riana

Minggu, 20 November 2016

Catatan Perjalanan : Perang menuju Puncak Gunung Parang

13 November 2016, adalah hari yang dinanti oleh saya daaaan... dia. Iya, diaaa. Setelah mengatur jadwal lebih dari satu bulan sebelumnya, akhirnya ketemu juga tanggal yang pas untuk kita nanjak bareng. Misi kita adalah foto di puncak gunung dengan view keren macam di bawah ini, biar bisa ganti foto profil whatsapp dan update di medsos. Hag hag hag.

Besoknya, langsung ganti foto prosil whatsapp pake foto ini :D (Me and Wulan)

Karena saya dan dia (wulan) adalah wanita yang perlu dimengerti, emaap, perlu dijaga maksudnya. Maka kami mengajak tiga pejantan tangguh untuk jadiii... teman perjalan kami :P

Here they are! (Kang Cipto, Kang Ari, and Kang Rendy)

Janjiannya sih, ketemu di meepo jam 7.00 tapi kenyataannya, jam segitu saya masih dandan di rumah, haha. Setelah nitip motor dulu di kostan Kang Ari, kemudian sarapan opor ayam Pak Mudji yang enak itu (endors, soalnya saya dapet voucher makan gratis sesuka hati) dulu di ruko Wulan, kita otw dari Karawang sekitar jam 9an. Ketemu Kang Rendy dan Kang Cipto di meepo Cikopo, kemudian langsung cuuusss ke gunung Parang yang terletak di Kabupaten Purwakarta.

Setelah mendaftarkan diri ke pos jaga dan membayar tiket masuk sebesar Rp 10.000/orang, kami langsung memulai penanjakan sekitar pukul setengah 12. Di awal banget, kamu akan melewati jalan tanah setapak yang tidak terlalu curam hingga ke pos 1. Dari start point ke pos 1 tidak terlalu jauh, tapi nafas saya sudah putus-putus kayak signal handphone di gunung. Duh, kerasa banget deh efek badan yang nggak pernah olah raga terus langsung diajak nanjak ke gunung. Dari pos 1 jalan sudah mulai menanjak, gerimis pun, jalannya jadi licin, harus ekstra hati-hati. Saya udah mulai kepayahan, lima langkah nanjak, diem, lima langkah nanjak, duduk, langkah udah berat, nafas apalagi.

Akhirnya Kang Cipto ngambil patahan kayu, “Nih, pegangan ke sini”. Saya megang ujung satunya dan dia megang ujung satunya lagi. Terus dia jalan di depan sambil narik kayu itu, narik saya sih sebenernya, hahaha. Kita sering berhenti di beberapa titik. Sebenernya kewalahan juga mengimbangi langkah Kang Cipto yang cepet banget (menurut versi saya), seringkali sambil engap-engapan saya bilang “Wait” “Tunggu” “Berhenti dulu” “Tunggu yang belakang”, padahal itu alesan aja dikala saya udah kepayahan, hehehe.

Di antara pos 1 dan pos 2, atau di antara pos 2 dan 3, saya lupa tepatnya, ada sebuah rumah pohon yang di atasnya kita bisa melihat view gunung-gunung sekitar. Tapi saya tidak naik ke atas karena sudah kehabisan tenaga. Padahal tempat itu bisa dijadikan backgruond yang keren untuk foto-foto ketjeh.



Sebenernya sih, di sepanjang perjalanan juga banyak spot-spot yang bagus untuk foto, tanjakan- tanjakan curam dan pepohonan membentuk terowongan yang menjadi background foto kami ini misalnya.



Sekitar jam 1, kami sampai di pos 3 dan langsung membuka bekal yang sudah dengan rempong Wulan siapkan. Menu makan siang kami adalah telor dan tahu balado, plus sayur kacang panjang. Yummyyy...!! Makan ngariung di saung pas lagi laper-lapernya ituuu.. Alhamdulillah banget :D



Oh iya, di pos 3 ini, selain ada saung, ada juga ayunan yang terbuat dari akar pohon, jadi nggak usah pakai hammock lagi. Ada juga rumah panggung yang kita manfaatkan untuk shalat dzuhur. Tapi hati-hati ya, jalan ke rumah panggung itu lewat batang-batang kayu sebagai jembatannya. Dan karena habis hujan, jadi tambah licin. Saya yang nyalinya ciut, nggak berani juga ke rumah panggung itu. Padahal bagus juga buat foto, huhuhuhu.

Ayunan akar

Rumah panggung like a flying house

Entah jam berapa kita melanjutkan perjalanan lagi, saya tidak begitu memerhatikannya. Di tengah perjalanan, kami bertemu rombongan yang turun. Padahal belum lama kami berpapasan dengan mereka di pos 3.
“Sudah sampai puncak, teh?”
“Belum, turun lagi. Hujan di atas. Anginnya juga gede. Jadi kami turun lagi.”
Eng... ing... eng... bad news buat kami. Karena emang cuaca juga lagi nggak bagus. Gerimis terkadang menyertai perjalanan kami. Langit sudah mendung gelap. Tapi kami belum mau menyerah. Kami putuskan untuk tetap lanjutkan perjalanan, setidaknya sampai puncak bayangan.

All member di puncak bayangan
Sekitar jam setengah 3 kami sampai di puncak bayangan. Setelah berfoto-foto sebentar, kami memutuskan untuk mencoba melanjutkan perjalanan ke puncak yang sesungguhnya. Tracknya menurun dengan jurang-jurang di sampingnya, lalu tanjakan curam menuju puncak. Honestly, saya tidak yakin bisa ke puncak, tapi karena dibersamai oleh teman-teman yang pasti akan membantu saya, saya akhirnya meng-iya-kan juga keputusan untuk lanjut jalan ke puncak.

Tapi, baru beberapa meter kita berjalan, cuaca semakin memburuk. Langit sudah gelap siap menumpahkan air hujan, petir-petir dan kilat semakin kerap, kabut semakin pekat. So, dengan berat hati, kami kembali lagi ke puncak bayangan.

Gagal muncak, bukan berarti kami harus bermuram durja. Kang Ari yang membawa lay back langsung mensettingnya. Saya yang membawa bekal dessert langsung mengeluarkannya; puding cokelat dan strawberry. Dalam sekejap, suasana menjadi cerah kembali. Meskipun cuaca semakin menjadi, hujan semakin deras mengguyuri tempat kami. Untungnya, di puncak bayangan ini ada bivak untuk tempat pendaki berteduh.

Dessert time!! :D

Dari sisi positivenya, cuaca yang demikian membuat pemandangan Gunung Parang semakin mempesona. Kabut yang turun menutupi gunung, membuat pemandangan di sini mirip dengan hutan mati di gunung papandayan. Eksotis!



Selain itu, kami juga bisa meminimalisir konsumsi air minum. Padahal sebelumnya kami sudah khawatir karena persediaan air yang kami bawa sudah hampir habis dipakai untuk pendakian. Saya kira, kondisi Gunung Parang ini tidak jauh dari Gunung Lembu; di pos dan puncak akan ada beberapa warung yang berjualan air dan makanan. Makanya saya hanya membawa satu botol kecil air mineral (padahal selama pendakian saya menghabiskan tidak kurang dari 3 botol air).  Tapi ternyata, di sini sama sekali tidak ada warung, kecuali di pos awal pendakian. Jadi, saran saya bagi yang ingin nanjak ke sini, siapkan bekal minum yang cukup ya.

Jam setengah 4 kami memutuskan untuk turun, meski hujan masih belum berhenti turun. Kami harus bersegera karena di antara kami tidak ada yang membawa alat penerangan, sementara matahari sudah mau terbenam. Bismillah... kami memulai menuruni bebatuan dan tanah licin yang curam. Tapi saya yakin…

“Tuhan bersama para petualang di tebing-tebing tinggi, di puncak-puncak gunung sunyi dan dilebatnya belantara sepi.”
(Bara -  Febrialdi R.)

Beberapa kali, semua bergantian terjatuh, dan yang memegang rekor paling sering adalah... saya! Hag hag hag. Saya tiga atau empat kali terjatuh, selain medan yang memang sangat licin, kaki saya juga sudah mulai lemas dan sulit untuk menahan beban tubuh saya yang tidak bisa dibilang langsing ini :P

Saya kembali “dituntun” oleh Kang Cipto. Di belakang saya ada Kang rendy yang pada waktu waktu tertentu bisa di “calling” sama Wulan untuk membantunya. Di barisan sapu bersih ada Kang Ari. Bagi saya, Wulan, Kang Rendy dan Kang Ari, ini bukan perjalanan bersama kita yang pertama. Sebelumnya, kita juga pernah ke Curug Lalay bersama rombongan Backpacker Karawang. Baca catatan perjalanan kami ke Curug Lalay di sini.

Sementara, untuk Kang Cipto, ini perjalanan pertamanya bersama kami. Saya, Wulan, dan Kang Ari, baru mengenal Kang Cipto kali ini. Dia adalah teman satu kerjaan Kang Rendy. Tapi walaupun baru kenal, sumvah deh nih orang baik banget. Bayangin aja hampir 4/5 perjalanan dia narik-narik saya. "Nuntun" saya yang payah. Yang kalo liat tanjakan curam di depan mata, langsung berhenti, terus bilang “Ini gimana cara naiknyaaaa??!!” Sementara dia yang katanya baru pertama kali ini naik gunung, jalan di depan untuk memastikan jalur yang akan kami lewati aman, sebentar sebentar “awas ya, hati-hati di sini licin banget”, “jangan lewatin tanah ini”, “napak ke akar ini, ya”, “jangan nginjek batu itu”, “posisi kakinya kayak gini, ya”. Pokoknya nice to meet you, Kang! Jangan kapok ya nanjak bareng kita lagi.

“Perjalanan mengajarkan bahwa orang baik itu (tidak) sedikit”
(Bara -  Febrialdi R.)

Finally, Alhamdulillah, sekitar jam 5 kurang kami sudah sampai pos awal pendakian. Lumayan cepat, kerena kami tidak banyak beristirahat. Sesampainya, kami langsung bersih-bersih dan bergantian shalat ashar. Jam setengah 6 kami pulang, setelah sebelumnya janjian untuk berhenti dulu di tempat makan bakso. Badan yang sedari tadi diguyur hujan membuat perut kami mulai keroncongan lagi.

Di perjalanan pulang, Kang Ari yang menyaksikan bagaimana payahnya saya “berperang” menuju puncak Gunung Parang mengajukan satu pertanyaan.
“Nggak kapok teh, nanjak?”
“Hahaha. Nggak. Seruuu!”
“Nanti ikut lah ke Lawu!”  (9-11 Desember mendatang Backpacker Karawang akan mengadakan trip ke Gunung Lawu dan city tour Solo, info lebih lanjut cek facebook dan instagram Backpacker Karawang yaa!)
“Nggak dulu, deh. Gunung Parang yang cuma 900-an (mdpl) aja kepayahan kayak tadi, apalagi Lawu. Maunya ke yang landai-landai dulu aja, kayak Prau sama Papandayan. Kalo di awal udah langsung yang hampir 3000-an (mdpl) takut nyusahin banyak orang dan malah kapok nggak mau nanjak lagi.”

Ah, semogaaa, tahun depan bisa nanjak lagi, ke Prau, Papandayan, dan Bromo. Aamiin.. Sementara belum bisa nanjak gunung-gunung nan gagah menjulang tinggi itu, sekarang saya lagi seneng baca buku-buku pendakian, macam Bara karya Febrialdi R (@edelweisbasah) dan Pejalan Anarki karya Jazuli Imam. Nantikan resensi bukunya yaaa!!

Sincerely,

Riana Yahya

Senin, 29 Agustus 2016

Ephemera, Karena Jatuh Cinta dan Patah Hati Hanya Sementara

Far to many emotions that taint my soul before my faith,
And often I drown in the moment
When in the end, they’re all ephemera



Ahimsa Azaleav, dengan cerita-cerita ringan dan sangat membuminya berhasil sekali membuat saya berkali-kali menghela nafas panjang. Seolah kata-kata yang ditulis dalam bukunya memang ditujukan kepada saya. Hehehe. Ge-er banget ya saya?!

Tapi seriusan deh, kamu harus baca, beli bukunya atau pinjem kaya saya, hehehe. Dari 19 cerita dalam buku ini, saya yakin kamu akan menemukan paling tidak satu cerita yang “kamu banget”. Karena cerita-cerita di buku Ephemera ini memang kisah sehari-hari yang biasa kita temukan, atau pernah kita alami malah.

Misalnya, “PHP My Story” berkisah tentang cowok yang seakan memberi kode buat kita, tapi tetiba nikah sama cewek lain. “Langit” berkisah tentang cewek yang berharap lebih ketika cowok yang dikaguminya merespon, padahal belum tentu juga cowok itu ......*isi sendiri titik-titiknya yah :P “Ephemera” berkisah tentang friendzone yang jadi merumit ketika benih-benih rasa lainnya hadir.

Cerita favorit saya? Sepertinya jatuh pada kisah berjudul “Saya, Jatuh Cinta” dan sebuah prosa berjudul “Kamu”.

“Bisa jadi perasaanmu justru menjadi penghalangmu untuk bertemu dengan jodoh sejatimu. Bersihkanlah hatimu. Nanti, kalau Tuhan mempertemukanmu dengan jodoh sejatimu, kau bisa melihat semuanya dengan lebih jernih. Aku tidak melarangmu jatuh cinta. Tapi jika jatuh cinta membuatmu terbang, berharap penuh angan, padahal semuanya sebenarnya biasa saja, lebih baik engkau kelola perasaanmu lagi. Tanyakan lagi, apakah benar itu jatuh cinta, kagum yang berlebihan, atau apa? Sementara dia yang katanya kau ‘jatuhi’ cinta sama sekali bukan (belum) jadi siapa-siapamu. Kembalilah. Jangan terbang terlalu tinggi.” (Penggalan “Saya, jatuh cinta” dalam buku Ephemera halaman 71-21)

“Ajari aku untuk tidak bahagia saat hurufmu menyapa. Atau beritahu aku rahasia agar tak menangis saat teringat bahwa ada dia dalam tiap langkahmu. Ajari aku agar semangatku tak berlipat saat tahu kamu masih mengingat mimpiku. Atau beritahu aku rahasia agar tak menangis saat teringat kamu juga yang pernah memukul semua semangatku. Ajari aku untuk tidak tersenyum saat teringat setiap jengkal kenangan. Atau beritahu aku rahasia agar tidak menangis saat teringat bahwa harapan itu tak boleh ada. Ajari aku untuk tahu diri. Atau beritahu aku rahasia agar tahan berpura-pura. Sungguh aku tak berhenti berdo’a untuk sebuah kerelaan. Sungguh aku tak pernah lelah berharap pada Sang Pemilik Hati saja. Sungguh aku bahkan telah memangkas habis semua harapan padamu. Sungguh aku telah berupaya untuk tahu diri” (Penggalan “Kamu” dalam buku Ephemera halaman 141).

Ephemera. Buku ini mengajarkan kita untuk menginsyafi bahwa jatuh cinta ataupun patah hati, ketika kita bisa menerimanya dengan sepenuh penerimaan, penerimaan yang baik, kemudian kita belajar dari semua itu, maka tidak akan ada yang sia-sia. Semua akan menjadikan kita pribadi yang lebih kuat. Semua akan menjadi media untuk kita lebih mengenal dan mendekat kepada-Nya yang telah menuliskan skenario hidup kita. Karena jatuh dan patah hatinya kita, terbolak-baliknya hati kita, bukan hal sulit bagi Dia yang Maha Kuasa. Lalu sudah jelaslah semua, pada siapa seharusnya kita hanya berharap dan bergantung.

Seincerely,

Riana Yahya