Minggu, 28 Februari 2016

Halaqah, Lingkaran Cinta..

Air dari langit ditumpahkan oleh awan-awan yang kelabu sedari saya membuka mata. Entah sejak kapan, mungkin menemani semalaman lelap saya. Aaaahh... cuaca seperti ini, sempurna untuk menarik selimut lagi hingga menutupi seluruh badan yang kedinginan, kan? Tapi seperti setiap ahad yang sudah-sudah, jadwal selalu padat merayap di hari ini.

Saya memaksakan diri untuk bangun dan mandi, berharap hujan akan segera reda ketika saya selesai menyiapkan diri. Tapi ternyata tidak, berkali-kali saya menengok ke luar rumah, hujan masih setia. Saya kontak beberapa teman, Teh Lina dan Teh Ika yang biasanya mengangkut buku untuk taman baca. “Buku ada di Mbak Nuy, dan kemarin dia baru pindahan. Belum ada yang tahu alamat kostnya yang baru.” Hhmmm... sepertinya sulit untuk membuka taman baca pekan ini. Hujan pula, khawatir buku-buku akan basah selama proses pengangkutan. Okay, first schedule canceled. Sata kontak teman saya yang lain, Teh Dede. Schedule kedua ini adalah sosialisasi Kelas Inspirasi Karawang. Tapi ternyata di cancel juga.


Hujan masih tak mau berajak, saya pun begitu. Ditemani buku dan secangkir kopi, saya masih tengkureb di tempat tidur saya. Sementara si waktu tak mau sedetik pun diam. Mendekati schedule ketiga, hp saya mengeluarkan suara yang menandakan sebuah pesan telah masuk. Sebuah gambar.

Pesan pengingat dari Teh Dede Chibi. Aaaaak, uhibbukafillah :*

Cuiiiinggg, jedaaaarrr!!! Rasanya seperti di tembak peluru panas, tepat di ulu hati. Atau di bom hingga hancur berkeping-keping. Jleb, jleb, jleb!!!! Saya langsung bangun. Membalas pesan dari teman saya ini, “Hayu teh, pake jas ujan!!! Bentar, aku siap-siap dulu. Nanti aku jemput.”
Bodo amat deh mau dikata kayak alien atau astronot. Mau tagan pada keriput kena ujan. Bodo amaaaat!!!

Jam 09.08 kami baru sampai di SMPIT Al-Irsyad Karawang, tempat acara Halaqah Akbar diadakan. Kami telat 1 jam 8 menit, duh! Untungnya pembicara belum mulai, peserta masih sedang membaca Al-Ma’tsurat bersama. Kami buru-buru mengikuti.

Halaqah akbar kali ini mengambil tema “Mengembalikan Ruh Tarbiyah yang Hilang”. Menghadirkan pembicara dua ummahat super duper keren yang sudah berpuluh-puluh tahun tarbiyah, Ummi Nurul Hidayati dan Ummi Maryanah. Di tengah kesibukannya menjadi seorang istri dan ibu, beliau-beliau juga memegang beberapa halaqah binaan. Ummi Nurul Hidayati bahkan masih mengambil beberapa kursus seperti bahasa arab. Ummi Maryanah (yang memiliki 7 orang anak) bahkan mengajar juga di Al-Irsyad dan membuka TPA di rumahnya. Amazing, aren’t they?


Halaqah di buka dengan sebuah pertanyaan dari Ummi Nurul, “Kenapa ikut tarbiyah, ukh?” Semua peserta sibuk dengan jawaban masing-masing dalam pikirannya. “Dari pada diam di rumah? Alasan untuk meninggalkan anak di rumah sama abi nya?” Ummi Nurul menebak, menggoda dengan candaanya.


Ummi Nurul in action B-)

“Realitasnya, kondisi kita saat ini hampir sama dengan kondisi sebelum kenabian. Kemunkaran merajalela di mana-mana. Pembunuhan, pemerkosaan, penyimpangan, LGBT, dll. Dunia di akhir zaman sudah separah ini. Seperti yang Rasulullah ramalkan bahwasanya muslim di akhir zaman kelak akan seperti buih di lautan yang terombang-ambing. Dalam dunia yang seperti ini, sanggupkah kita berdiri sendiri, ukhti?”

“Tidak,” akhwat-akhwat menjawab pertanyaan Ummi Nurul, ada yang dengan suara lantangnya, ada yang dengan hanya bisikan, bahkan saya menjawabnya dalam hati saja. Hati saya yang membenarkan, bahwa saya memang tidak akan bisa berdiri sendiri di dunia yang sudah semenakutkan ini. Toh selama ini saya merasa aman karena berada di tengah-tengah mereka di lingkaran ini. Saya merasa aman kerana selalu dibersamai orang-orang baik seperti mereka ini. Bagaimana rasanya dunia tanpa mereka? Bagaimana kalau saya tidak pernah bertemu mereka? Bagaimana kalau saya tidak pernah menjadi bagian dari mereka? Saya berulangkali melafalkan hamdalah dalam hati, Allah telah mengirimkan jalan hidayah-Nya melalui mereka-mereka ini untuk saya. *berkaca-kaca :’)*

“Karena sudah menjadi fitrah bagi manusia, memerlukan pengingat. Karena iman kita itu naik turun. Jika tidak konsisten di charge dengan halaqah, khawatir lama kelamaan akan futur. Mungkin berawal dari lepas kaos kaki, lalu jilbabnya lama-lama menjadi menciut, kemudian lepas jilbab, Naudzubillah,” saya mengangguk-angguk menyetujui perkataan Ummi Nurul.

“Jangan jadi buih di lautan, ukh. Jadilah karang-karang yang tangguh!” kata-kata penutup dari Ummi Nurul ini melesat langsung ke mindset saya. Aaaahhh... ayo, Riana!!!

Ba’da dzuhur halaqah akbar ini di tutup. Sebelum pulang, semua peserta bersalaman dan berpelukan. Diiringi lagu “Doa’a Rabithah” dari Izzatul Islam.

Sesungguhnya Engkau tahu
bahwa hati ini telah berpadu
berhimpun dalam naungan cintaMu
bertemu dalam ketaatan
bersatu dalam perjuangan
menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
kekalkanlah cintanya
tunjukilah jalan-jalannya
terangilah dengan cahayamu
yang tiada pernah padam
Ya Rabbi bimbinglah kami

Lapangkanlah dada kami
dengan karunia iman
dan indahnya tawakal padaMu
hidupkan dengan ma'rifatMu
matikan dalam syahid di jalan Mu
Engkaulah pelindung dan pembela

Kami, yang tidak saling kenal, tidak ada hubungan darah, tapi... ketika tangan bertaut, lalu saling merangkul dengan sehangat pelukan diiringi senyuman yang tak lepas meski mata sudah berkaca-kaca, bahkan beberapa sudah basah, kuyup oleh cinta. Hati kami saling berpaut. Ya Allah, himpunkan kami selalu di jalan-Mu yang benar, yang Engkau ridhai. Ya Allah, himpunkan kami kelak di surga-Mu, bersama dengan orang-orang yang mencintai-Mu. *Basaaaah T_T*


Schedule keempat bertempat di Masjid Aliyah, syuro untuk membahas Nobar Ketika Mas Gagah Pergi The Movie yang insyaallah akan diadakan tanggal 20 Maret nanti. Sebelum syuro di mulai, sambil menunggu teman yang sedang shalat, saya membaca sebuah surat dari murabbiah saya. Dalam acara khalaqah akbar tadi, peserta memang diwajibkan untuk membuat surat untuk murabbiah. Tapi ternyata surprise, murabbiah kami juga sudah menyiapkan surat untuk kami.

Surat cinta dari Sang Murabbiah :’)

Ah, semoga harapan besar itu bisa saya wujudkan, menebarkan nilai-nilai dakwah agar meluas, melalui guratan-guratan tulisan saya. Semoga saya yang dha’if ini bisa tetap istiqamah di jalan dakwah, di lingkaran cinta ini.


Sincerely,
Riana.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar