Selasa, 04 Agustus 2015

Cinta adalah Rasionalitas Sempurna

Cinta bukan sekadar soal menerima apa adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna. Jika kau memehami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau dengan mudah membenarkan apa pun yang terjadi di hati. Tanpa tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut. Tidak lebih, tidak kurang.
Sepotong Hati yang Baru - Tere Liye

Sudah sejak lama, tapi lupa entah kapan, saya serupa pikiran dengan Bang Tere Liye ini. Kalau cinta adalah rasionalitas sempurna. Bukan apa yang orang bilang perasaan irasional, yang tak butuh alasan dan penjelasan.

Saya termasuk orang yang rasional. Saya selalu mencintai seseorang dengan rasional. Dengan runtutan alasan dan penjelasan mengapa saya bisa mencintainya. Saya bukan perempuan naif yang dapat menerima pasangan saya apa adanya. Saya punya serentetan list yang harus ia penuhi untuk dapat memenangkan hati saya. Yang baik akhlaknya, yang luas ilmunya, yang shalatnya berjama’ah di masjid, yang waktunya banyak dihabiskan untuk urusan dan kesejahteraan ummat, yang dewasa (sikapnya, bukan umur), yang memiliki penghasilan untuk menghidupi saya dan keluarga kami nanti, dan yang mencintai saya beserta keluarga saya.

Sedangkan pada mereka yang memehami cinta adalah perasaan irasional, akan dengan mudah membenarkan apa pun yang terjadi di hatinya. Meski itu salah. Mereka tak peduli dengan aturan yang ada, karena bagi mereka memang begitulah cinta, tak bisa dihentikan, tak bisa dikendalikan, tak rasional. Akhirnya, banyak kita lihat sekarang, penyimpangan yang menggunakan “cinta irasional” ini sebagai alasannya, menikah dengan pasangan berbeda agama, atau menikah dengan pasangan sesama jenis. Na’udzubillah.

Ba’da membaca dua buku “Bukan Cinderella” karya Ifa Avianty dan “Sepotong Hati yang Baru” karya Tere Liye, saya belajar tentang sesuatu, bahwa cinta itu sesuatu yang dapat kita kendalikan. Tentu Allah yang membulak-balik hati kita, tapi kita juga tentu dapat berusaha. Untuk dapat mencintai siapa yang seharusnya kita cintai. Dan sebaliknya, tidak mencintai siapa yang seharusnya kita tidak cintai.

05-08-2015
Sincerely,

Riana.

3 komentar:

  1. Penegasan untuk hati saat ini, bener na karena kita yg mengendalikan cinta, bukan kita yg di kendalikan oleh cinta. Semoga Pemilik hati menempatkan kita pada cinta yg sesuai :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, tin, setuju. Karena kita harus dapat mengendalikan cinta kita agar selalu dan hanya bermuara pada-Nya. Aamiin.. Allahuma aamiin..

      Hapus