Senin, 20 Juli 2015

Ini Calon Suami Idaman Saya, Mah...

Satu pertanyaan yang sering mampir kepada saya ketika bertemu dengan saudara-saudara adalah “Neng, udah punya pacar?” dan saya selalu menjawab, “Nggak..” sambil senyum sekilas. “Ya nggak apa-apa punya pacar juga, udah gede,” saya cuma bisa diam sambil senyum lagi.

Keluarga saya memang bukan keluarga “alim”. Bagaimana ya, menggambarkannya, ya begitulah. Shalat, puasa, zakat, dijalankan. Tetapi konsep ta’aruf belum pernah ada dalam tradisi keluarga. Kedua kakak saya membawa pacarnya ke rumah kami sebelum mamah-papah melamar ke rumahnya. Mamah-papah juga kadang sering bercerita tentang saudara-saudara atau tetangga yang umurnya jauh di bawah saya tetapi sudah membawa pacar ke rumahnya. Saya paham, saya sedang disindir.

Kepada papah-mamah, saya sudah sering membahas visi saya mengenai pernikahan. Saya bilang, saya tidak ingin pacaran, nanti ta’aruf saja. Dikenalkan oleh guru ngaji atau teman, mungkin juga orang yang sudah saya kenal. Nanti kalau sudah ada juga pasti ke rumah bersama keluarganya, untuk melamar. Jodoh pasti bertamu :))

Tapi seperti yang saya bilang sebelumnya, konsep ta’aruf belum pernah ada dalam tradisi keluarga saya. Masih “ngawang” kata orang sunda mah, semacam utopia untuk keluarga kami. Saya sudah memberi berapa contoh, pernikahan Mbak Oki Setiana Dewi, misalnya. Ketika nonton infotainment saya bilang ke mamah, “Tuh mah, eneng mau nikahnya kayak gitu, nggak pake pacaran, baju pengantinnya juga syar’i.”

Tapi masih belum jitu, Mbak Oki kan selebritis. Belum ada contoh “orang biasa” yang bisa saya tunjukin ke mamah, dari kalangan keluarga khususnya. Dan ditengah usaha saya itu, datanglah sepupu saya, anak pertama dari paman saya –adik dari ibu saya–. Saya belum tahu kalo dia ini “ikhwan” sebelum dia datang membawa istrinya yang “akhwat”. Akhirnya, ada juga saudara yang se-frekuensi sama saya, hehe. 

Dengan begitu, saya dengan mudah nunjuk sepupu saya ini ketika ngasih contoh ke mamah tentang suami idaman saya. “Tuh mah, nanti eneng  pengennya punya suami kayak kakak itu...,” Aamiin, Ya Allah. Setidaknya mamah punya gambaran mengenai calon menantunya nanti. Padahal saya juga belum punya gambaran tentang calon suami saya nanti, hehe. Yaaa.. tapi kayaknya type saya nggak bakal jauh-jauh dari sepupu saya itu kok. Prototype calon suami idaman untuk para akhwat lah pokoknya mah; shaleh, pinter, ganteng, kalem. Sayang, udah punya istri *toyor kepala sendiri* XD

Tidak hanya kelebihannya yang saya contohkan kepada mamah, tapi juga keterbatasannya (ah.. di mata saya ini juga menjadi kelebihannya). Di tengah kehidupannya yang tidak berlebih, tapi masih harus menanggung biaya kuliah adiknya, menggantikan posisi ayahnya yang sudah dipanggil Allah terlebih dulu. Mungkin tidak banyak yang bisa disisihkan untuk orang tua atau mertua. Mungkin harus hidup dalam kesederhanaan. Tapi insyaallah berkah.


Selepas 2 hari 1 malam keluarga sepupu saya –ibu dan kedua adiknya– mengunjungi rumah saya pada H+2 lebaran, sepupu saya ini masih jadi topik hangat diantara saya dan mamah. “Kakak itu juga nggak pacaran dulu,” “Istrinya juga sama pakai bajunya kayak eneng,” “Mamahnya nggak boleh kerja, suruh di rumah aja nikmatin hari tua sambil main-main sama cucu, semua keperluannya ditanggung sama kakak itu,” dan sebagainya. Feeling saya sih kalo ada yang kayak sepupu saya ini dateng ke rumah, nggak bakal ditolak sama mamah, hehe. Ngarep, ya? *puk puk puk*

Sincerely,
Riana
21/07/2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar