Sabtu, 17 Mei 2014

Dandelion

1 Pesan Baru
17-05-2014  05:49
Tiba-tiba dia menghubungiku lagi, neng. Apa kabar? katanya. Aku baik, jauh lebih baik semenjak kamu pergi, kataku. Syukurlah, katanya. Tapi aku tidak, katanya lagi. Aku diam. Dia diam. Tetiba aku tak sebak barusan. #debumasalalu :,(
***

Saya menggerutu kesal setelah membaca pesan itu. Sedari subuh saya menahan sesak yang terus merangsak ke luar. Pada akhirnya kini tak tertahan lagi. Bantal basah. Guling basah. Dan masih dengan penglihatan yang mengembun jari-jemari menuliskan sebuah kisah.

Di saat yang sama. Tengah malam tadi dia mengirim pesan, setelah sekian lama. Isinya hanya sebuah pesan dakwah. Tapi yang dikirimi menangkapnya dengan berbagai arti. Ah, saya nyatanya saya masih terus menghubung-hubungkan, hingga tak jelas mana yang benar-benar terjadi dan mana yang hanya rekaan imaji :’(
Pesan Terkirim
***

Belum ada balasan juga. Mungkin handphone sedang tak digenggaman. Mungkin sibuk. Mungkin tak ada yang perlu dibalas. Mungkin sudah tak ada kisah yang perlu dikisahkan lagi. Tapi saya masih punya. Bukan kisah, hanya tentang kita.

Tidakkah kita terlalu rapuh? Kita, berdiri tegak saat tak ada gangguan angin. Tapi, langsung jatuh ambruk seketika saat angin–yang meski hanya sepoi– menyapa kita.
Pesan Terkirim
***

Kita bak daun dandelion, yang terlepas dari tangkai begitu angin menyentuhnya. Kita tak dapat hentikan angin itu kan? Yang dapat kita lakukan hanya berusaha menjadi kuat.



“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung pada-Mu dari kesusahan dan kesedihan. Aku berlindung pada-Mu dari kelemahan dan kemalasan…”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar