Selasa, 08 April 2014

#Para Kakak-kakak Shalih

Saya mengenal #Para Kakak-kakak Shalih ini di sebuah forum kepenulisan, saat itu saya masih kelas 2 SMA. Saat pertemuan pertama, saya pikir saya salah tempat, ini forum kepenulisan atau forum pengajian? Hampir semua wanita berjilbab lebar dengan pakaian longgar dan kaus kaki.
Waktu terus bergulir, semakin mengenal #Para Kakak-kakak Shalih ini, saya semakin mengagumi mereka. Setiap orang memiliki karakter masing-masing, namun saya melihat sebuah kesamaan yang melekat pada mereka; menjaga diri. Ya, mereka sangat terjaga; tampilannya, tutur katanya, prilakunya, interaksinya dengan lawan jenis, pun keimanannya.
Saya penasaran, apa rahasia #Para Kakak-kakak Shalih ini? Saya pun bertanya pada salah seorang yang paling pemalu dari mereka, “Teteh ngaji di mana?” Saya beranggapan bahwa pastilah yang membentuk pribadi mereka seperti itu adalah ilmu yang mereka miliki. Dan saya ingin tahu dimana tempat mereka menuntut ilmu tersebut.
“Tiap ahad kita ada pertemuan rutin, bungsu. Biasa kita sebut liqo’, lima sampai sepuluh orang berkumpul dan dibimbing sama ummi,” anggapan saya sepertinya tidak salah, saya pun bertanya lagi, “Tempatnya di mana teh?”
“Pindah-pindah, ahad ini kebetulan di kostan teteh. Iku yuk! Nanti teteh bilang ummi kalo bungsu mau gabung,” aha! Ini yang saya tunggu-tunggu. Saya pun langsung mengiyakan tanpa banyak pikir lagi.
Saya masih ingat pertemuan dengan murabbiah yang biasa Kakak-kakak Shalih panggil ummi. Beliau ibu tiga anak asal medan, baru tiga tahun ini tinggal di Karawang karena suami ada tugas dinas di sini. Dulu, beliau mengambil kuliah di dua universitas sekaligus, psikologi UGM dan sastra arab di salah satu universitas swasta di Yogja.
Waktu terus berlalu, semakin dekat #Para Kakak-kakak Shalih ini, saya semakin bersyukur bahwa saya bisa menjadi bagian dari ‘sistem’ ini. Saya kemudian banyak mengenal #Para Kakak-kakak Shalih lain. Dan takdir selalu mempertemukan kami lagi, di setiap tersedia ladang pahala; saat penggalangan dana untuk Palestina, saat kajian-kajian Islam, saat membantu korban banjir, saat mabit, saat demonstrasi menentang pembunuhan masal saudara muslim di bagian negeri lain, dan banyak lagi. #Para Kakak-kakak Shalih ini ada di barisan paling depan.
Kemudian saya berpikir, jika ‘sistem’ ini berlaku di seluruh pelosok Indonesia, jika #Para Kakak-kakak Shalih ini menjadi pemimpin-pemimpin Indonesia, saya optimis bahwa peradaban kita akan berubah!
Karena bagi #Para Kakak-kakak Shalih ini politik hanya menjadi ‘alat’ untuk mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin, bukan sebagai tujuan akhir. Karena bagi #Para Kakak-kakak Shalih ini amanah adalah ladang amal yang mereka harap dapat menjadi pemberat pahala di yaumul akhir nanti jika dapat dilaksanakan dengan baik. Dan sebaliknya, amanah juga dapat menjadi ladang dosa yang mereka takutkan menjadi penjerumus menuju dahsyatnya panas api neraka jika tidak dapat mereka laksanakan.

Untuk itu, bismillah, tanggal 9 April 2014 nanti #SayaPilihPKS yang selalu melayani dengan CINTA, KERJA, HARMONI :)